MBMA Anggarkan Buyback Rp 1,46 Triliun, INET Gelar MTO PADA dan TINS Tebar Dividen

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Market Overview

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (17/6) di area merah dengan penurunan 0,55% ke level 6.220,74.

Penguatan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi penopang utama indeks. Sebaliknya, pelemahan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menjadi aspek nan menahan laju IHSG.

Investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp328,73 miliar di pasar reguler. Namun, jika dihitung secara keseluruhan, penanammodal asing tetap mencatatkan beli bersih sebesar Rp2,51 triliun di seluruh pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sisi sektoral, tujuh dari sebelas indeks sektoral berhujung di area negatif. Sektor industri mengalami penurunan paling dalam sebesar 2,52%, sedangkan sektor kesehatan menjadi sektor dengan penguatan tertinggi sebesar 0,58%.

Bursa saham Amerika Serikat juga ditutup melemah. Indeks Dow Jones turun 0,98% ke posisi 51.492, S&P 500 terkoreksi 1,21% menjadi 7.420, dan Nasdaq turun 1,35% ke level 26.021. Pelaku pasar saat ini mencermati keputusan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, nan mempertahankan suku kembang acuannya.

Di dalam negeri, perhatian penanammodal tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia nan diperkirakan meningkatkan BI Rate sebesar 25 pedoman poin menjadi 5,75%. Keputusan tersebut dinilai dapat memengaruhi nilai tukar rupiah, aliran modal asing, dan pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Sementara itu, indeks ETF EIDO turun 1,42%, sedangkan MSCI Indonesia tetap menguat 0,33%.

Berita Emiten

  1. PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)

INET bakal melaksanakan penawaran tender wajib alias mandatory tender offer (MTO) atas saham PT Personel Alih Daya Tbk (PADA). Jumlah saham nan menjadi objek MTO mencapai maksimal 900 juta saham alias setara 28,57% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Harga nan ditetapkan dalam MTO tersebut sebesar Rp63 per saham, sama dengan nilai saat transaksi pengambilalihan dilakukan. Dengan demikian, nilai transaksi berpotensi mencapai Rp56,7 miliar andaikan seluruh saham nan dimiliki pemegang saham publik nan berkuasa ikut serta dalam MTO terserap.

Periode penawaran berjalan mulai 18 Juni hingga 17 Juli 2026.

  1. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)

MBMA menyiapkan biaya hingga Rp1,46 triliun untuk penyelenggaraan pembelian kembali saham. Seluruh biaya tersebut berasal dari kas internal perseroan. Hingga akhir 2025, MBMA mempunyai posisi kas sebesar US$192,64 juta, lebih rendah dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$244,03 juta.

Apabila tindakan pembelian kembali saham dilakukan sepenuhnya, total aset perseroan diperkirakan menjadi US$3,65 miliar dari sebelumnya US$3,74 miliar. Sementara total ekuitas diproyeksikan menjadi US$2,27 miliar dari US$2,35 miliar.

Di tengah rencana tersebut, MBMA membukukan pendapatan sebesar US$1,43 miliar pada 2025, turun 22,18% dibandingkan tahun sebelumnya nan mencapai US$1,84 miliar. Meski demikian, untung per saham alias earnings per share (EPS) meningkat 28,57% menjadi US$0,00027 dari sebelumnya US$0,00021.

Setelah memperhitungkan akibat pembelian kembali saham, EPS diperkirakan meningkat menjadi US$0,00028. Program buyback dijadwalkan berjalan pada 17 Juni hingga 16 September 2026.

  1. PT Timah Tbk (TINS)

TINS memutuskan membagikan dividen tunai tahun kitab 2025 sebesar Rp88,18 per saham alias setara Rp656,82 miliar. Nilai tersebut mencerminkan rasio pembagian dividen sebesar 50% dari untung bersih nan dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Keputusan tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Juni 2026.

Sepanjang 2025, TINS membukukan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun, naik 6,41% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp10,86 triliun. Laba bersih perseroan juga meningkat 5,14% menjadi Rp1,31 triliun dari Rp1,25 triliun pada 2024. Sementara itu, untung per saham dasar tercatat naik menjadi Rp176 dari Rp168 pada tahun sebelumnya.

Pada perdagangan 17 Juni 2026, saham TINS ditutup di level Rp3.540 per saham. Berdasarkan nilai tersebut, dividen nan dibagikan mencerminkan tingkat imbal hasil sekitar 2,49%. Adapun cum date dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 23 Juni 2026, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan pada 10 Juli 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

  • ESSA - Buy 650-660 | TP 675-685 | SL 610

  • ARKO - Buy 5950-6025 | TP 6175-6275 | SL 5650

  • AYAM - Buy 338-342 | TP 352-358 | SL 322

  • CFIN - Buy 354-360 | TP 366-370 | SL 336

  • ESIP - Buy 138-141 | TP 145-147 | SL 133

Disclaimer: Ingat, bahwa segala kajian dan rekomendasi saham dalam tulisan ini berkarakter informatif sekaligus bukan merupakan rayuan untuk membeli alias menjual saham tertentu.

Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing penanammodal sesuai dengan profil akibat dan tujuan finansial pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.

(ang/ang)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance