Masjid Berpotensi Jadi Penggerak Transisi Energi Bersih melalui Wakaf Hijau

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Masjid Berpotensi Jadi Penggerak Transisi Energi Bersih melalui Wakaf Hijau Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENJELANG peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, rumor kedaulatan daya menjadi salah satu sorotan dalam Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026. Para pemangku kepentingan menilai upaya melepaskan ketergantungan terhadap daya fosil dapat diperkuat melalui peran rumah ibadah, khususnya masjid, dengan memanfaatkan skema Wakaf Hijau (Green Waqf).

Gagasan tersebut mengemuka dalam obrolan panel berjudul Faith-Based Contribution to Indonesia’s Solarization Ambition. Forum ini menghadirkan perwakilan pemerintah, lembaga negara, serta konsorsium masyarakat sipil nan membahas kontribusi organisasi keagamaan dalam mendukung sasaran pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional hingga 100 gigawatt (GW).

Potensi pendanaan berbasis filantropi Islam dinilai menjadi modal besar untuk mendorong percepatan transisi energi. Indonesia diperkirakan mempunyai potensi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) nyaris Rp400 triliun setiap tahun. Sementara itu, potensi akumulasi wakaf duit diperkirakan mencapai Rp181 triliun nan dapat dimanfaatkan sebagai pembiayaan berkepanjangan bagi pengembangan energi terbarukan.

Komisioner sekaligus Ketua Lembaga Kenazhiran Badan Wakaf Indonesia (BWI), M. Ali Yusuf, mengatakan penanganan krisis suasana dan percepatan transisi daya sejalan dengan prinsip Maqashid asy-Syari’ah, ialah menjaga kepercayaan (Hifzh Ad-Din), logika (Hifzh al-Aql), kekayaan (Hifzh al-Mal), keturunan (Hifzh an-Nasl), dan jiwa (Hifzh an-Nafs).

Menurutnya, BWI terus mendorong penerapan Kerangka Kerja Wakaf Hijau (Green Waqf Framework) nan menempatkan daya terbarukan sebagai salah satu konsentrasi pengembangan wakaf produktif.

"Kami di Kementerian Agama dan Badan Wakaf terus mencari langkah gimana potensi nan besar ini bisa terkumpul, tidak hanya tercatat sebagai potensi. nan kami butuhkan adalah support publik dan literasi tentang wakaf nan manfaatnya pasti bakal kembali kepada masyarakat secara jangka panjang, termasuk instalasi panel surya di genting masjid," kata Ali dalam obrolan di Jakarta, Sabtu (1/8).

Ali menambahkan, pemasangan panel surya melalui skema wakaf bakal memberikan faedah ganda. Selain mengurangi beban biaya listrik rumah ibadah dalam jangka panjang, penghematan tersebut dapat dialihkan untuk mendukung beragam program pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Dari sisi kebijakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pemerintah telah meningkatkan sasaran bauran daya terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Hal itu disampaikan Staf Khusus Bidang Percepatan Isu Strategis Sektor ESDM, M. Pradana Indraputra.

"Salah satunya adalah porsi bauran daya terbarukan. RUPTL tahun pendahulunya, itu porsinya 52% jika tidak salah. RUPTL nan sekarang jika tidak salah 73%, itu plus baterai dan lain-lain," ungkap Pradana.

Ia menilai sasaran transisi daya nasional tidak mungkin diwujudkan hanya mengandalkan pembiayaan negara maupun investasi skala besar. Karena itu, keterlibatan masyarakat melalui aktivitas solarisasi genting rumah ibadah dinilai menjadi bagian krusial dalam mempercepat pencapaian sasaran tersebut.

"Ada juga memang hitungan ekonominya. Tempat kepercayaan itu ada subsidi kompensasi tersendiri. Jadi PLN ini jika sama masjid-masjid bayar listrik jauh lebih murah. Jadi kami minta dilibatkan, apa nan bisa kami bantu, kabari kami," ujar Pradana.

Indonesia saat ini mempunyai lebih dari 750 ribu masjid dan musala. Apabila sekitar 200 ribu di antaranya memasang PLTS berkapasitas 5 kilowatt (kW), maka bakal terbentuk tambahan kapabilitas daya bersih hingga sekitar 1 GW nan berasal dari partisipasi masyarakat.

Kolaborasi tersebut mulai diwujudkan melalui inisiatif NUUR+, sebuah platform infak dan wakaf daya nan digagas konsorsium masyarakat sipil, termasuk MOSAIC. Program ini bakal merealisasikan proyek solarisasi masjid di Aceh Tamiang, wilayah nan terdampak bencana, sekaligus mendorong pemberdayaan wanita dan penguatan ekonomi lokal.

Deputi Direktur Program Just Energy Transition MOSAIC, Reka Maharwati, menegaskan bahwa pemanfaatan daya surya di rumah ibadah mempunyai akibat nan lebih luas dibanding sekadar efisiensi penggunaan listrik.

"Listrik berbasis surya di masjid bukan sekadar menghemat energi, tetapi menghidupkan ruang-ruang pemberdayaan masyarakat. Melalui momentum INZS 2026, kami membujuk seluruh pemangku kepentingan bersinergi memperluas pembiayaan inovatif ini untuk mewujudkan sasaran daya bersih berbasis masyarakat," tutur Reka. (H-2)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia