Arief Setyadi
, Jurnalis-Jum'at, 21 Agustus 2026 |11:19 WIB

Anggota DPR Sudjatmiko (Foto: Ist)
JAKARTA — Tingginya kecelakaan kapal sepanjang 2026 perlu diikuti dengan penguatan pengawasan serta standar keselamatan transportasi laut. Menurut Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat 601 operasi SAR akibat kecelakaan kapal selama Januari hingga 15 Agustus 2026, dengan jumlah korban mencapai 3.607 orang.
Dari total korban tersebut, 3.165 orang sukses diselamatkan. Sementara 239 orang meninggal bumi dan 203 lainnya tetap dalam pencarian.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan perihal itu dalam rapat berbareng Komisi V DPR RI, Kementerian Perhubungan, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di ruang rapat Komisi V DPR RI, Jakarta, Rabu 19 Agustus 2026. Merespons perihal itu, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, Sudjatmiko, menilai tingginya nomor kecelakaan tersebut kudu menjadi bahan pertimbangan terhadap penerapan keselamatan pelayaran.
Ia meminta pemerintah tidak hanya memandang info kecelakaan sebagai angka, tetapi juga menelusuri beragam aspek nan berangkaian dengan kelaikan kapal serta pengawasan sebelum kapal beroperasi.
“601 kecelakaan kapal dalam waktu kurang dari delapan bulan adalah nomor nan kudu menjadi sirine bagi kita semua. Ini bukan sekadar persoalan kecelakaan, tetapi menyangkut keselamatan ribuan masyarakat nan menggunakan transportasi laut,” kata Sudjatmiko, Jumat (21/8/2026).
Sejumlah aspek keselamatan turut dibahas dalam rapat tersebut. Di antaranya mengenai keakuratan manifest penumpang dan kendaraan, kesiapan perangkat pemadam kebakaran, hingga penyelenggaraan pemeriksaan kapal oleh otoritas pelabuhan. Dalam arsip rapat juga disebutkan tetap terdapat kapal dengan manifest nan belum lengkap, kendaraan nan tetap menyalakan mesin di dek, serta peralatan pemadam dan pompa nan belum berfaedah secara optimal.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·