Muhammad Thaifuri, Kepala MAN 1 Pidie, Aceh, sedang memberi pengarahan kepada siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) setempat, beberapa waktu lalu.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)
KEKHAWATIRAN terhadap tren kenakalan remaja dan ancaman penyalahgunaan narkoba di kalangan usia belia kian menjadi perhatian serius bagi para pendidik. Sebagai upaya nyata membentengi generasi muda dari pengaruh negatif, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pidie, Provinsi Aceh, mengambil langkah inovatif dengan mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) sebagai wadah pembinaan karakter dan bakat.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan info Badan Narkotika Nasional (BNN), sekitar 312 ribu remaja berumur 15 hingga 25 tahun di Indonesia telah terkontaminasi narkotika. Dari total 3,3 juta pengguna narkoba secara nasional, kebanyakan berasal dari kalangan muda. Kondisi ini diperparah dengan tingginya nomor kejahatan nan melibatkan remaja, baik sebagai pelaku maupun korban.
Kepala MAN 1 Pidie, Muhammad Thaifuri, menjelaskan bahwa pendirian SSB ini bermaksud untuk menyalurkan daya positif siswa ke arah nan lebih produktif. Menurutnya, remaja adalah pewaris masa depan bangsa nan kudu dijaga moral dan mentalnya sejak dini.
"Mereka adalah generasi pewaris negeri ini. Kalau mau memandang wajah bangsa ini ke depan, tataplah apa nan sedang kita bangun pada mereka hari ini," ujar Thaifuri kepada Media Indonesia, Minggu (21/6).
SSB ini dikelola sebagai aktivitas ekstrakurikuler nan berjalan di luar jam pelajaran formal, sehingga tidak mengganggu kurikulum akademik. Menariknya, program ini tidak hanya terbatas bagi siswa MAN 1 Pidie, tetapi juga membuka pintu bagi pelajar dari sekolah lain di wilayah Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, hingga Kota Banda Aceh.
Seleksi Ketat dan Persiapan Piala Soeratin
Antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat tinggi. Pada tahap awal pendaftaran pekan lalu, tercatat sebanyak 410 remaja mendaftarkan diri. Setelah melalui proses seleksi nan ketat, terpilih 42 pemain berbakat nan sekarang tengah menjalani latihan intensif.
Tim ini dipersiapkan untuk berkompetisi di arena bergengsi, seperti Piala Soeratin U-15 dan beragam turnamen regional lainnya. Untuk memastikan kualitas pembinaan, MAN 1 Pidie melibatkan tenaga profesional, di antaranya:
- Herman: Pelatih Utama
- Muhammad Razi: Pelatih Fisik
- Agus Saputra: Manajer Tim
- Ikram: Pembantu Tim
Filosofi Pendidikan: MAN 1 Pidie menekankan bahwa potensi remaja sangat beragam. Tidak semua anak kudu menonjol di bagian akademik. Dengan memanusiakan siswa melalui pengembangan talenta nan terarah, sekolah berambisi dapat menutup ruang bagi tindakan negatif dan embrio kenakalan remaja.
Miniatur Keberagaman dan Ketahanan Sosial
Thaifuri menambahkan bahwa madrasah nan dipimpinnya, dengan sekitar 800 siswa, merupakan miniatur mini dari Indonesia nan majemuk. Melalui sepak bola, nilai-nilai sportivitas, kerja sama tim, dan disiplin ditanamkan untuk membentuk karakter positif.
"Tujuan kami bukan memaksakan skill tertentu, tapi memanusiakan mereka dengan mempunyai karakter positif dan mengembangkan skill nan bermanfaat. Jika ruang mereka tidak diisi dengan aktivitas positif, dikhawatirkan bakal terisi oleh hal-hal negatif," pungkasnya. (MR/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·