Jakarta -
Pemerintah Indonesia resmi menjalin kerja sama strategis dengan Malaysia di bagian pengembangan perdesaan. Kerja sama ini ditandai dengan proses penandatanganan Memorandum Saling Pengertian (MoU) oleh perwakilan kedua negara.
Mewakili pemerintah Indonesia, penandatanganan MoU dilakukan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto. Sementara mewakili Malaysia, Wakil Perdana Menteri (PM) sekaligus Menteri Kemajuan Desa dan Wilayah (KKDW) Malaysia, Ahmad Zahid bin Hamidi.
Yandri menjelaskan melalui kerja sama ini, kedua negara bermufakat memperkuat kerjasama dalam pembangunan area desa, pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga pemanfaatan teknologi digital.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berambisi MoU ini bukan hanya sekadar arsip nan tak bernilai, tapi kami mau penerapan itu bisa dieksekusi. Karena sejatinya kita diberi mandat oleh rakyat, mau memberikan nan terbaik buat kesejahteraan rakyat, baik di Malaysia maupun di Indonesia," katanya dalam aktivitas penandatanganan MoU di Kantor Kemendes PDT, Jakarta Selatan, Kamis (17/9/2026).
Lebih lanjut, dia mengatakan terdapat delapan poin alias unsur nan menjadi kerja sama bagian pengembangan perdesaan di Indonesia dan Malaysia. Di mana setelah MoU, kedua negara bakal langsung membentuk tim kerja berbareng agar kerja sama ini dapat dieksekusi lebih jauh.
"Jadi setelah MOU ini nan saya sampaikan tadi, bakal dibentuk tim kerja. Ya, dari tim teknis nan diisi oleh personil dari Malaysia dan Indonesia. Terutama dari Kementerian Kemajuan Desa dan Wilayah Malaysia dan Kementerian Desa dan PDT Republik Indonesia," jelasnya.
"Jadi kelak real sektornya bagaimana, termasuk teknis di lapangan kelak juga bakal dibicarakan. Sehingga penerapan itu bisa dieksekusi," sambung Yandri.
Di luar itu, Yandri memaparkan Indonesia mempunyai 75.266 desa dengan beragam tingkatan kemajuan. Dari jumlah tersebut, sekitar 20.000 desa di antaranya adalah Desa Mandiri, 23.000 Desa Maju, 21.000 Desa Berkembang, serta sekitar 9.600 desa nan tetap berstatus Tertinggal dan Sangat Tertinggal.
Ia berambisi dengan kerja sama ini, Indonesia dan Malaysia bisa saling belajar dan berbagi info mengenai 'kiat-kiat' membangun area perdesaan di kedua negara. Akan lebih baik jika kerja sama ini bisa melangkah lebih jauh dan konkret.
"Nanti kita bakal berganti pengalaman, tukar data, success story, lantaran sekali lagi kami sampaikan bahwa antara Indonesia-Malaysia sebenarnya nggak ada sekat, tidak ada perbedaan nan begitu mencolok. Maka kerja sama ini sejatinya kita pelihara, kita laksanakan dengan hati nan tulus, dengan niat nan baik, maka jika kedua negara ini semakin maju, rakyatnya semakin sejahtera," ujarnya.
Sebagai contoh kerja sama konkret antar kedua negara, Yandri menceritakan sejumlah program unggulan Kemendes PDT seperti salah satunya melalui program Desa Ekspor.
"Kami sampaikan ini bisa jadi ruang lingkup nan bisa kita terjemahkan dalam hal-hal nan konkret nanti. Kami punya Desa Ekspor. Saya sebagai Menteri Desa sudah melepas ekspor perdana dari Jawa Timur di Kabupaten Pacitan, gula aren organik ke Malaysia. Nah, jadi ini luar biasa, corak konkret hubungan bilateral kedua negara. Dari desa sudah tampak bisa banyak hal-hal nan bisa kita lakukan," ungkap Yandri.
Selain sektor komoditas ekspor, Yandri juga menyoroti potensi besar di sektor pariwisata perdesaan untuk saling mempererat hubungan kedua negara.
"Jadi jika selama ini mungkin para pelancong Malaysia hanya terkonsentrasi di kota-kota besar Indonesia, Pak Dubes, kelak jika bisa, Pak, kita buat ya pelancong Malaysia bisa kunjungan ke desa-desa, Pak, lantaran banyak sekali desa wisata di Indonesia. Termasuk kelak kita bakal promosikan juga desa-desa wisata nan ada di Malaysia agar penduduk Indonesia ke Malaysia juga kunjungan ke desa-desa nan ada di Malaysia," lanjutnya.
Tak hanya itu, program pengembangan desa tematik (seperti peternakan ayam petelur dan budi daya ikan lele/nila) serta pelatihan/magang SDM pemuda desa juga menjadi poin krusial nan siap dikolaborasikan berbareng Malaysia.
Dalam kesempatan nan sama Menteri Kemajuan Desa dan Wilayah Malaysia, Ahmad Zahid bin Hamidi, menyambut hangat kerja sama ini. nan juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri menekankan hubungan Indonesia dan Malaysia tidak hanya terikat oleh rumpun bangsa, tetapi juga oleh kesamaan langkah pandang dalam membangun kesejahteraan rakyat.
"Kedekatan dan keratan antara Indonesia dan Malaysia adalah sesuatu nan tidak siapa boleh menafikannya, kerana ianya bukan hanya rumpun bangsa, tetapi nan paling krusial adalah wahdatul fikr, ialah penyatuan mind di antara rakyat Indonesia dan rakyat Malaysia dalam satu jalur pemikiran nan sama demi kepentingan Malaysia dan Indonesia," tegas Ahmad Zahid.
Ahmad Zahid mengapresiasi komitmen besar Pemerintah Indonesia dalam memajukan perdesaan dan menyatakan Malaysia mau belajar dari langkah-langkah Indonesia.
"Biarpun di Indonesia mempunyai 75.000 kampung alias perdesaan, di Malaysia hanya ada 15.750, tetapi Malaysia kudu belajar dari Indonesia untuk memajukan daerah-daerah tertinggal," ungkapnya.
Sembari bercanda, Ahmad Zahid mengingatkan agar MoU kerja sama ini dikawal ketat implementasinya agar tidak berubah menjadi 'Memorandum of Misunderstanding'.
"Yang paling penting, andaikan InsyaAllah kita bakal menandatangani Memorandum Saling Pengertian, dalam bahasa Inggris disebut Memorandum of Understanding. Sering Memorandum of Understanding ini, MoU ini, untuk tempo-tempo tertentu andaikan tidak diterjemahkan implementasinya, dia menjadi Memorandum of Misunderstanding," tegas Ahmad Zahid.
(igo/fdl)
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·