Sama Safi.(The Guardian/Keluarga Sama Safi)
SEORANG mahasiswi berkebangsaan Amerika Serikat-Palestina, Sama Safi, 20, dilaporkan ditahan oleh militer Israel selama nyaris dua minggu tanpa dakwaan resmi. Penahanan ini memicu kekhawatiran mendalam dari pihak family dan sejumlah legislator AS, terutama mengenai kondisi kesehatan kronis nan dideritanya.
Safi, nan merupakan mahasiswi ilmu jiwa di Universitas Birzeit, Tepi Barat, ditangkap dalam penyergapan awal hari di rumah keluarganya pada 2 Juni lalu. Juru bicara militer Israel menyatakan bahwa Safi berbareng tiga wanita lain ditahan atas tuduhan, "Mempromosikan aktivitas teroris nan bermusuhan," meskipun hingga saat ini belum ada bukti alias dakwaan umum nan diajukan ke pengadilan.
Kekhawatiran Kondisi Medis
Keluarga Safi mengungkapkan bahwa wanita muda tersebut menderita penyakit autoinflamasi kronis nan memerlukan perawatan rutin dan pengobatan spesifik. Penyakit ini dapat menyebabkan demam nan melumpuhkan dan rasa sakit nan luar biasa. Sebelum ditahan, Safi baru saja mulai pulih setelah sempat terbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan.
Meskipun perwakilan Kedutaan Besar AS di Jerusalem mengunjungi Safi dan melaporkan bahwa dia dalam kondisi baik, pihak family menegaskan bahwa obat-obatan nan diberikan di pusat penahanan tidak memadai untuk menangani kondisi medisnya secara tepat.
Konteks Penahanan: Safi ditahan di pusat interogasi Jerusalem nan sering mendapat sorotan tajam dari organisasi kewenangan asasi manusia atas laporan pelecehan dan penganiayaan terhadap tahanan Palestina sejak pecahnya bentrok pada 7 Oktober 2023.
Tekanan Diplomatik dan Politik
Kasus itu menarik perhatian Washington. Senator Peter Welch, Jeff Merkley, Chris Van Hollen, serta Perwakilan Ayanna Pressley menyuarakan dorongan agar Safi segera dibebaskan. Mereka sebelumnya juga sukses mengadvokasi pembebasan Mohammed Ibrahim, remaja AS-Palestina nan ditahan selama sembilan bulan.
Pengacara kewenangan asasi manusia, Lea Tsemel, nan mewakili Safi, menyatakan bahwa kliennya menjadi sasaran setelah ada info nan diduga diekstraksi secara paksa dari mahasiswa lain nan ditahan sebelumnya. Tsemel membantah keterlibatan Safi dalam organisasi mahasiswa Qutub yang dilarang oleh Israel.
"Sama tahu dia tidak melakukan kesalahan apa pun," ujar Tsemel. Namun, dia menyoroti tren penggunaan penahanan administratif oleh Israel, ialah ribuan penduduk Palestina ditahan tanpa proses norma nan jelas.
Respons Pemerintah AS
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pemerintahan Trump memantau situasi ini dengan serius. "Ketika penduduk Amerika ditahan di luar negeri, Departemen mengadvokasi akses ke perawatan medis nan memadai dan mencari akses konsuler secepat mungkin," ungkapnya.
Hingga buletin ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Israel belum memberikan komentar resmi mengenai penahanan Sama Safi. Sidang lanjutan untuk menentukan status norma Safi dijadwalkan bakal berjalan pada Minggu (14/6). (The Guardian/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·