Love Scamming Banyak Sasar Korban Usia 45-60 Tahun, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Love Scamming Banyak Sasar Korban Usia 45-60 Tahun, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Usia 45-60 tahun rentan terkena love scamming. (Foto: Freepik)

LOVE scamming alias penipuan berkedok hubungan asmara rupanya tidak selalu menyasar orang nan dianggap polos alias kurang memahami teknologi. Perempuan berumur 45 hingga 60 tahun banyak nan menjadi sasaran.

Bukan hanya soal usia, korban nan banyak masuk perangkap love scamming juga rupanya mempunyai latar belakang pendidikan dan intelegensi nan baik. Lantas, kenapa perihal tersebut bisa terjadi?

Fenomena Love Scamming di Indonesia, 3.494 Kasus Dilaporkan dalam Setahun

1. Love Scamming Banyak Sasar Korban Usia 45-60 Tahun

Love scamming merupakan modus penipuan nan memanfaatkan hubungan emosional dan romantis untuk mendapatkan untung dari korban. Pelaku biasanya membangun kedekatan secara perlahan melalui komunikasi intensif, perhatian, pujian, hingga membikin korban merasa mempunyai hubungan unik dengan dirinya.

Yang menarik, korban tidak selalu tidak menyadari adanya kejanggalan. Dalam kondisi tertentu, seseorang apalagi bisa saja mempunyai kecurigaan bahwa dirinya sedang berhadapan dengan penipu, tetapi tetap memilih melanjutkan komunikasi.

Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Hersa Aranti, dalam aktivitas Morning Zone nan tayang di Youtube Okeozne, salah satu perihal nan perlu diperhatikan soal korban dari love scamming adalah kondisi psikologis seseorang ketika memasuki usia 45 tahun ke atas. Menurut Hersa, usia 45 tahun ke atas merupakan fase kehidupan nan sangat beragam.

Setiap orang tentu mempunyai pengalaman dan kondisi kehidupan nan berbeda. Namun, pada sebagian orang, fase ini ditandai dengan kehidupan nan lebih stabil dan terstruktur dibandingkan ketika tetap muda.

Kesibukan pekerjaan, keluarga, rutinitas, hingga perubahan dalam kehidupan sosial dapat membikin seseorang tidak lagi mendapatkan banyak pengalaman nan memberikan sensasi spontan alias menyenangkan seperti sebelumnya.

“Di usia 45 tahun ke atas, sudah berada di usia nan beragam dan variatif hal-hal nan terjadi dalam kehidupannya. Biasanya sudah tidak muda lagi, tidak banyak sparks alias hal-hal nan berwarna. Sudah berada di usia nan lebih settle dan stabil,” ujar Hersa.

Dalam kondisi seperti itu, munculnya seseorang nan memberikan perhatian secara intens dapat menghadirkan kembali emosi nan mungkin sudah lama tidak dirasakan. Ucapan selamat pagi, pesan sebelum tidur, pujian, perhatian setiap hari, alias sekadar seseorang nan selalu siap mendengarkan cerita dapat memberikan warna baru dalam kehidupan.

2. Ketika Perhatian Jadi “Sparks” Baru

Hersa mengatakan pelaku love scam memahami betul gimana membangun kedekatan emosional. Mereka dapat memberikan perhatian secara konsisten hingga korban merasa dirinya kembali menjadi seseorang nan krusial dan diinginkan.

Bagi sebagian korban, perhatian tersebut bukan semata-mata soal romantisme. Ada kebutuhan emosional nan ikut terpenuhi, seperti kebutuhan untuk didengarkan, dihargai, ditemani, dan merasa mempunyai seseorang nan peduli.

Inilah nan menurut Hersa dapat menjadi salah satu argumen kenapa korban tetap melanjutkan hubungan. Padahal terkadang, sebenarnya sudah muncul kecurigaan.

“Bisa jadi sebenarnya sudah sadar bahwa ini scamming, tetapi tetap dilanjutkan lantaran rupanya bisa mengisi kekosongan itu. Enak juga setiap hari ada nan membujuk ngobrol, setiap hari ada nan memberikan ucapan-ucapan manis, sehingga akhirnya tetap dilakukan,” ujar Hersa.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com