Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Dok. MI)
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya peran wanita sebagai subjek nan aktif memproduksi pengetahuan dan membentuk wacana publik. Menurutnya, wanita tidak boleh hanya menjadi objek pemberitaan, tetapi kudu bisa menuliskan ceritanya sendiri agar jejak sejarah mereka tidak hilang.
Hal tersebut disampaikan Lestari, nan berkawan disapa Rerie, saat memberikan pengantar dalam aktivitas Woman's Writing Clinic nan diselenggarakan oleh Akademi Perempuan NasDem (APN) secara daring pada Kamis (22/10). Ia menekankan bahwa catatan sejarah nan dibuat oleh wanita sangat menentukan masa depan perjuangan kesetaraan gender.
"Ketika wanita sunyi dalam sejarah, sunyi di ruang publik, jejaknya tidak bakal terlihat. Ketiadaan catatan bisa menafikan keberadaan kita sendiri," ujar Rerie nan juga merupakan Anggota Komisi X DPR RI tersebut.
Rerie menjelaskan bahwa selama ini banyak pengalaman dan pendapat wanita nan luput dari pencatatan. Dampaknya, kontribusi wanita sering kali tidak diperhitungkan dalam proses pengambilan kebijakan strategis. Ia menilai menulis adalah langkah menyuarakan ketidakadilan sekaligus memastikan perspektif wanita masuk dalam pertimbangan formal.
Dalam kesempatan itu, dia mencontohkan tokoh-tokoh besar seperti R.A. Kartini, Ida B. Wells, Anne Frank, hingga Virginia Woolf. Melalui surat dan tulisan, pendapat mereka tetap hidup dan menjadi injakan perjuangan lintas generasi hingga saat ini. Rerie menegaskan bahwa kerja nyata di lapangan bakal mudah dilupakan tanpa adanya pengarsipan tertulis.
"Menulis adalah agensi strategis. Mari meramaikan narasi publik dengan isu-isu perempuan, tidak hanya referensi saja, tetapi melalui catatan nan bisa kita tinggalkan," tambahnya di hadapan para aktivis wanita dan wartawan nan hadir.
Rerie berambisi aktivitas training ini tidak berakhir sebagai agenda seremonial sehari. Ia menargetkan lahirnya sebuah kitab dari karya para peserta sebagai corak catatan nyata perjuangan perempuan. Baginya, wanita mempunyai banyak gagasan, namun nan dibutuhkan saat ini adalah keberanian untuk menuliskannya di ruang publik.
"Perempuan tidak kekurangan gagasan. nan diperlukan adalah keberanian menuliskannya agar tulisan itu dibaca, diperdebatkan, dan memengaruhi keputusan," pungkas Rerie. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·