Lestari Moerdijat: Situs Batujaya Bukti Peradaban Luhur Bangsa Indonesia

Sedang Trending 1 hari yang lalu
 Situs Batujaya Bukti Peradaban Luhur Bangsa Indonesia Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Dok spesial )

SITUS Batujaya di Karawang, Jawa Barat, bukan sekadar area peninggalan purbakala. Situs itu adalah bukti bahwa Indonesia mempunyai peradaban dengan nilai-nilai nan luhur sejak beratus-ratus tahun lalu.

"Batujaya bukan sekadar situs, dia adalah saksi gimana masyarakat hidup berdampingan pada masa lalu, berdampingan dalam keberagaman," ujar Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat pada aktivitas Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara MPR RI bertema Batujaya: Warisan Peradaban dan Identitas Bangsa, di area situs Percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat, Jumat (12/6) sore.

Hadir pada aktivitas tersebut antara lain Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, Wakil Bupati Karawang H. Maslani, Wakil Ketua DPRD Karawang Dian Fahrud Jaman, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia/FIB UI Untung Yuwono, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Barat Retno Raswaty, Ketua Departemen Arkeologi FIB UI Prof. Cecep Eka Permana, dan Ketua Program Studi Arkeologi UI Ghilman Assilmi.

Kegiatan ini diselenggarakan berbareng mahasiswa Program Studi Arkeologi FIB UI nan sedang melaksanakan kuliah lapangan dan praktik penggalian di area Situs Batujaya, Karawang, Jawa Barat.

Sebanyak 90 mahasiswa mengikuti aktivitas ini, sebagai bagian dari proses pembelajaran langsung mengenai arkeologi, sejarah, kebudayaan, dan pelestarian warisan bangsa.

Lestari mengungkapkan bahwa kompleks percandian di Batujaya nan merupakan candi Buddha, berasal dari abad ke-5, jauh lebih tua daripada Candi Borobudur (abad ke-8). Pada masa nan sama, kerajaan-kerajaan Hindu mulai tumbuh. Namun, kedua pemeluk kepercayaan itu bisa hidup berdampingan.

"Di sinilah sebetulnya ada sebuah pembelajaran bahwa nilai toleransi itu sudah hidup dan berakar sejak beratus-ratus tahun lampau di Nusantara," ungkap Rerie, sapaan berkawan Lestari.

Ia menambahkan, empat pilar kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, bukan datang di ruang kosong.

"Empat Pilar Kebangsaan itu datang dari perjalanan panjang bangsa ini. Berbagai pikiran besar bertemu, nan kemudian membentuk kita menjadi satu bangsa. Peninggalan berhistoris di Batujaya adalah bagian krusial dari perjalanan sejarah itu," tegasnya.

Rerie nan juga personil Komisi X DPR RI itu mengingatkan bahwa tanpa pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah, bangsa Indonesia bakal kehilangan arah. Tanpa budaya nan kuat, bangsa bakal mudah tercerabut dari akarnya.

Pada kesempatan itu, Rerie menyampaikan apresiasinya kepada para mahasiswa arkeologi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia nan melakukan ekskavasi di Batujaya.

"Apa nan dilakukan anak-anak semua adalah sebuah kerja kebangsaan. Sebuah pekerjaan nan menggali kembali masa lalu, bukan hanya sebagai peralatan nan kemudian ditampakkan, tapi banyak nilai nan terkandung di dalamnya," ujarnya.

Rerie berpesan kepada para calon arkeolog itu agar menjadi penjaga ingatan bangsa.

Di era digital saat ini, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengakui ada tantangan besar berupa pseudo-arkeologi dalam corak cerita-cerita karangan nan marak di masyarakat.

Menurut Rerie, butuh kerjasama semua pihak agar bangsa ini bisa menjawab beragam tantangan sejarah nan muncul di masa sekarang dan mendatang.

"Tugas kita semua adalah menunjukkan dan memahami bahwa warisan budaya nan ada, seperti peninggalan berhistoris di Situs Batujaya adalah bagian dalam sejarah peradaban bangsa ini dengan nilai-nilai luhur nan terkandung di dalamnya, krusial untuk membangun karakter generasi penerus bangsa," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menegaskan pentingnya support kebijakan dan kerjasama lintas lembaga dalam merawat situs bersejarah nan berskala nasional itu.

Karena, menurut Saan, pengembangan area Situs Batujaya memerlukan support dari sejumlah sektor, seperti prasarana untuk kemudahan akses jalan menuju area situs, dan penataan area nan kewenangannya berada di sejumlah lembaga dan lembaga.

Kolaborasi nan kuat antara para pemangku kepentingan di pusat dan daerah, lembaga pendidikan, serta masyarakat, ujar Saan, kudu direalisasikan sebagai bagian upaya pengembangan area Situs Batujaya.

Pada kesempatan nan sama, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Barat Retno Raswaty mengungkapkan bahwa Situs Batujaya merupakan situs nan relatif baru ditemukan pada sekitar tahun 1980-an.

Menurut Retno, sebuah peninggalan berhistoris tidak bisa eksis tanpa nilai-nilai nan ada di belakangnya.

Retno mengungkapkan bahwa kerjasama pihaknya dengan Program Studi Arkeologi FIB UI merupakan langkah strategis dalam proses pelestarian warisan budaya nasional.

Dia berharap, di area Situs Batujaya dapat terbangun ekosistem nan harmoni antara budaya agraris nan sudah ada sejak masa lampau dengan pengembangan candi-candi di Situs Batujaya nan sarat nilai-nilai budaya dan agama.

Ketua Departemen Arkeologi FIB UI, Cecep Eka Permana beranggapan bahwa Situs Batujaya merupakan situs nan unik, lantaran tidak ada di catatan-catatan di era Belanda, seperti temuan sejarah lainnya.

Namun, ungkap Cecep, selain candi-candi, di area Situs Batujaya ini juga ditemukan peninggalan dari masa pra-sejarah.

Dari temuan nan ada, diperkirakan area di ujung pantai Utara Jawa ini merupakan letak berkembangnya peradaban di masa lalu. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia