Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Antara)
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai digitalisasi sebagai keniscayaan dalam pengelolaan museum nan menghubungkan teknologi dengan peran krusial pelestarian ingatan budaya bangsa.
“Museum itu bukan tempat menyimpan barang kuno. Ia rumah ingatan kolektif bangsa. Kecerdasan buatan dapat memberi kesempatan museum untuk bergerak lebih luas,” ujar Rerie, sapaan berkawan Lestari, dalam sambutannya pada obrolan daring bertema Museum sebagai Rumah Ingatan, Rumah Belajar, sekaligus Bagian dari Infrastruktur Kebangsaan di Era Generasi Digital dan Perkembangan AI nan diselenggarakan Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (21/10).
Diskusi nan dimoderatori Eva Kusuma Sundari (Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Endah Budi Heryani, S.S., M.M. (Direktur Sejarah dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan RI), Putu Supadma Rudana, M.B.A. (Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia /AMI, Penasihat Menteri Kebudayaan Bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum), dan Dr. Tular Sudarmadi, M.A. (Dosen Arkeologi dan Museologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada/UGM) sebagai penanggap.
Selain itu, datang pula Ajeng Ayu Arainikasih, M.A. (Ahli Museologi Universitas Indonesia/UI) sebagai penanggap. Rerie menyoroti realita bahwa saat ini sudah banyak organisasi pecinta museum di Indonesia. "Saya memandang kita punya masa depan dalam pengembangan museum. Apalagi, saat ini, sudah ada Kementerian Kebudayaan nan secara langsung menangani museum," ujar Rerie nan juga Anggota Komisi X DPR RI itu.
Rerie beranggapan bahwa peringatan Hari Museum (12 Oktober) dan Hari Kebudayaan (17 Oktober) nan berdekatan memberi makna bahwa penguatan peran museum sebagai lembaga nan bisa memperkuat ingatan budaya bangsa bagi masyarakat luas, merupakan perihal krusial nan kudu diwujudkan.
"Kebudayaan tidak mungkin diwariskan tanpa ingatan nan terpelihara. Pada museum diharapkan ada cerita, catatan, perjalanan, dan info nan disajikan untuk merawat makna dari budaya nan pernah ada," ujar Rerie.
Ketua Umum AMI Putu Supadma Rudana beranggapan bahwa museum merupakan jembatan nan menghubungkan masa lampau dan masa kini, untuk menggapai masa depan. Menurut Putu, pencapaian masa lampau bangsa terkadang jauh lebih dahsyat dari masa kini. nan kita pahami saat ini banyak artefak berhistoris terdapat di negara-negara Barat. Putu berpendapat, idealnya museum dapat menyajikan beragam perihal mengenai sejarah, strategi, edukasi, dan relevansi.
"Bagaimana dari catatan sejarah museum dapat menyajikan strategi, edukasi, dan relevansinya pada masa kini," ujarnya.
Dengan peran museum tersebut, ujar Putu, memerlukan payung norma nan bisa menjaga semua langkah untuk mewujudkan perihal itu di masa depan. Dosen Arkeologi dan Museologi, Fakultas Ilmu Budaya UGM Tular Sudarmadi mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia itu mempunyai warisan sejarah dan budayanya sendiri.
Ketika bangsa Eropa masuk Nusantara dengan pendudukan, eksploitasi, dan kolonialisme, menurut Tular, mereka menganggap bangsa Indonesia tetap terbelakang. Melihat peninggalan berhistoris di Nusantara terlantar, tambah Tular, benda-benda itu pun di bawa ke Eropa dan ditaruh di museum.
"Karena mereka menganggap orang Indonesia primitif dan tidak tahu sejarah, mereka melengkapi benda-benda berhistoris dari Nusantara dengan narasi versi mereka sendiri," ujar Tular.
Dengan latar belakang itu, menurut Tular, saat ini perlu ada perubahan dalam pengelolaan museum (dekolonisasi museum) nan mengedepankan keterlibatan masyarakat pada proses penafsiran sejarah dalam membangun narasi, bukan hanya kurator.
Keterlibatan masyarakat nan bergesekan langsung dengan benda-benda bersejarah, menurut Tular, memperkuat narasi dari memori kolektif nan ada di masyarakat.
Direktur Sejarah dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan RI, Endah Budi Heryani, mengungkapkan, arah kebijakan strategis museum pada 2026 antara lain adalah penguatan regulasi, registrasi nasional, standarisasi mutu, revitalisasi SDM, kerjasama dengan publik, dan ekonomi budaya.
Sejumlah poin itu, ujar Endah, direalisasikan dalam corak antara lain memberi penguatan pada revisi UU Permuseuman, mempermudah akses untuk registrasi, dan pedoman penilaian untuk standarisasi museum.
Menurut Endah, pendaftaran museum merupakan langkah awal untuk diakui secara nasional. Saat ini, ujar dia, ada 384 museum nan mempunyai nomor pendaftaran nasional museum (NPNM) untuk mempermudah proses standarisasi museum.
Ahli Museologi UI Ajeng Ayu Arainikasih mengungkapkan bahwa berasas riset nan dilakukan terhadap family kelas menengah nan mempunyai anak gen Z akhir dan awal gen Alpha, rupanya sebagian besar tidak pernah membujuk anaknya ke museum.
Hasil riset itu, tambah Ajeng, mengungkapkan bahwa mereka tidak membujuk anaknya ke museum lantaran tidak mendapat informasi, pamerannya kurang menarik, dan fasilitasnya kurang. Hasil itu, jelas dia, seperti ada gap antara upaya pemerintah merevitalisasi museum dan upaya menarik minat masyarakat.
"Mereka memerlukan akomodasi seperti toilet nan bersih, area parkir memadai, dan koleksi nan bercerita," ujar Ajeng.
Gen Z hingga Gen Alpha, menurut Ajeng, menggemari pengalaman physical dan digital (phigital) nan bisa disajikan oleh museum. Selain itu, tambah dia, program edukasi untuk anak sekolah dan family oleh museum kudu terus dikembangkan untuk meningkatkan minat masyarakat datang ke museum di masa datang. Wartawan senior Usman Kansong beranggapan bahwa orang datang ke museum lantaran koleksi nan menarik, ada di dalam museum.
"Mengapa kita mau capek-capek antre di Louvre Museum di Paris, lantaran tertarik memandang lukisan Monalisa nan dipamerkan di sana. Mengapa kita tertarik mengunjungi Museum Penerangan di TMII lantaran di sana ada koleksi kamera nan dipakai untuk merekam pidato Bung Karno di Lapangan Ikada," ujar Usman.
Kalau mau membikin museum menarik bagi publik, menurut Usman, kita perbaiki koleksinya terlebih dahulu. Menurut Usman, langkah Kementerian Kebudayaan sudah benar, menempatkan koleksi dengan porsi penilaian paling besar ialah 40%. Karena, tegas Usman, dengan membenahi koleksinya terlebih dahulu, sektor lain seperti tata letak dan digitalisasi bakal ikut. (P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·