Kapoksi PDIP Komisi VI DPR Mufti Anam menyoroti kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Mufti Anam mendesak investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab dan langkah keselamatan pengguna kereta ke depannya.
"Peristiwa tabrakan kereta di wilayah Bekasi ini menunjukkan bahwa ada nan tidak beres dalam tata kelola keselamatan perkeretaapian kita. Transportasi nan selama ini kita banggakan sebagai moda paling kondusif dan tepat waktu, justru memperlihatkan celah mendasar nan semestinya tidak boleh terjadi di era teknologi saat ini," kata Mufti kepada wartawan, Rabu (22/4/2026).
Mufti mendengar jika KA Argo Bromo tak mendapat sinyal mengenai keberadaan KRL di depannya sehingga berujung kecelakaan. Mufti menyoroti sistem pengamanan berlapis nan belum diterapkan di Indonesia.
"Saya menerima info bahwa kereta api jarak jauh tidak mendapatkan sinyal mengenai keberadaan kereta di depannya. Jika benar, maka ini adalah kegagalan sistem dan apalagi mungkin human error," ujar Mufti.
"Di banyak negara, sistem Automatic Train Protection (ATP) alias European Train Control System (ETCS) sudah menjadi standar minimum untuk mencegah tabrakan, apalagi ketika masinis melakukan kesalahan. Kenapa sistem pengaman berlapis seperti ini belum sepenuhnya diterapkan secara optimal di Indonesia," tambahnya.
Mufti mengatakan selama ini pemerintah banyak memberikan beragam akomodasi menguntungkan ke KAI. Legislator tersebut mengaku kecewa KAI lantaran dinilai kandas melindungi nyawa rakyat.
"KAI selama ini menikmati posisi nan sangat kuat apalagi condong monopolistik di sektor transportasi rel. Negara memberikan beragam fasilitas; penyertaan modal negara (PMN), subsidi public service obligation (PSO), penugasan proyek strategis, hingga perlindungan izin sehingga pesaing nyaris tidak ada. Kami kecewa, KAI sebagai salah satu BUMN nan paling privileged, justru kandas melindungi nyawa rakyat," ucap Mufti.
Mufti mengatakan sejak lama mengingatkan investasi terlalu berat ke prasarana fisik, rel, stasiun hingga kereta baru. Namun, lanjutnya, sistem keselamatan berbasis teknologi dan manajemen akibat justru belum melangkah beriringan.
"Yang juga sangat memprihatinkan, korban kecelakaan ini semuanya perempuan. Bagaimana kreasi keselamatan kita? Standar kreasi rangkaian kereta kudu mempertimbangkan crash safety, bukan hanya kapabilitas dan kenyamanan. Keselamatan jangan setengah-setengah. Tidak cukup hanya melindungi dari kejahatan sosial, tapi juga dari akibat kecelakaan," ungkapnya.
Ia pun mendesak untuk dilakukan investigasi menyeluruh mengenai penyebab kecelakaan kereta di Bekasi Timur tersebut. Mufti meminta dirut hingga pejabat tinggi KAI mundur jika terbukti ada human error.
"Saya mendesak segera lakukan beberapa langkah. Pertama, lakukan audit investigatif menyeluruh dan independen, bukan sekadar investigasi internal. Harus dibuka secara transparan ke publik di mana titik kegagalannya, apakah sistem sinyal, SOP, alias human error," kata Mufti.
"Jika terbukti human error kami minta Dirut dan pemimpin level tertinggi lainnya untuk bertanggungjawab dan mundur. Tidak cukup dengan minta maaf dan evaluasi," tambahnya.
Mufti mengusulkan KAI untuk mempercepat penerapan sistem pengaman otomatis berbasis teknologi di seluruh jalur, terutama jalur padat seperti Jabodetabek. Menurutnya tak boleh ada lagi kereta melangkah tanpa perlindungan digital.
"Ketiga, pertimbangan total manajemen operasional dan budaya keselamatan di tubuh KAI. Jangan sampai orientasi upaya dan ketepatan waktu mengalahkan aspek keselamatan. Keempat, lakukan penataan ulang komposisi gerbong berbasis risiko, termasuk pertimbangan dan reposisi gerbong wanita agar lebih aman," ujar Mufti.
Mufti juga menyoroti aspek lain, ialah taksi nan tertemper di perlintasan sebidang area Stasiun Bekasi Timur. Ia meminta seluruh pelintasan kereta terlarangan ditutup permanen.
"Di era serba teknologi, menurut saya sangat keterlaluan tetap membiarkan ada palang pintu terlarangan ini. Semua perlintasan wajib dipetakan dan diamankan, resmi dijaga alias dilengkapi palang otomatis. Perlintasan terlarangan kudu segera ditutup permanen alias setidaknya diproteksi sistem digital seperti sensor dan sirine peringatan," imbuhnya.
Sebelumnya, KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL nan sedang berakhir di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Peristiwa itu berasal dari taksi tertemper KRL di perlintasan nan tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa taksi tertemper KRL itu mengakibatkan KRL di Stasiun Bekasi menunggu. KA Argo Bromo Anggrek kemudian datang dan menabrak dari belakang. Korban tewas kecelakaan kereta api tersebut mencapai 15 orang dan puluhan orang terluka.
(dwr/rfs)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·