Di tengah tenda-tenda pengungsian nan tetap berdiri di laman Paroki Aeramo, Kecamatan Aesesa, sejumlah penduduk mengantre membawa map berisi fotokopi kartu family nan lecek, sebagian apalagi robek. Mereka datang bukan untuk mengungsi, melainkan untuk mengurus arsip nan lenyap alias rusak saat gempa mengguncang Kabupaten Nagekeo beberapa hari lalu. Di posko itulah, Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri berbareng Dinas Dukcapil Nagekeo membuka jasa jemput bola.
Gempa nan melanda Nagekeo menelan sembilan korban jiwa dan melukai 22 orang lainnya. Sebanyak 7.430 rumah penduduk rusak, ditambah 540 gedung instansi dan akomodasi umum lain nan juga terdampak. Total enam kecamatan dan 113 desa mengalami kerusakan. Ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal, dan di tengah situasi seperti itu, arsip kependudukan nan biasanya dianggap remeh, justru menjadi salah satu perihal nan paling dicari, lantaran menjadi syarat utama mengakses support sosial, sekolah, hingga jasa kesehatan.
Layanan di posko Aeramo mulai disiapkan sejak Selasa (25/8/2026) pagi pukul 07.30 WITA, saat petugas mulai menata perangkat rekam dan cetak arsip di posko Aeramo. Pukul 09.00 WITA, Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, membuka pelayanan tersebut, didampingi Direktur Jenderal Dukcapil, Teguh Setyabudi, dan tim pusat Ditjen Dukcapil nan dipimpin Indersan Rakha. Tim campuran nan turun ke lapangan terdiri dari jejeran Ditjen Dukcapil, Dinas Dukcapil Nagekeo nan dipimpin Plt. Kepala Dinas, Oscar Yoseph Amekae Sina, serta tenaga teknis lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menyerahkan support beragam kebutuhan pelayanan manajemen kependudukan, termasuk 6.000 keping blangko KTP-el, ribbon, serta perangkat Starlink untuk memperkuat konektivitas di wilayah terdampak serta mendukung percepatan layanan.
Sepanjang hari itu, tim sukses menerbitkan 300 arsip kependudukan. Rinciannya, 108 KTP elektronik, 93 kartu keluarga, 49 kartu identitas anak, 26 akta kelahiran, 4 akta kematian, 3 akta perkawinan, 9 perekaman KTP-el baru, 5 surat keterangan pindah penduduk negara Indonesia, serta masing masing satu arsip berupa buletin aktivitas kesepakatan anak angkat, pengesahan anak, dan aktivasi Identitas Kependudukan Digital.
Teguh Setyabudi mengatakan, jasa nan digelar di tengah kondisi darurat semacam ini menjadi bukti bahwa pelayanan kependudukan tidak boleh berakhir hanya lantaran bencana. "Pelayanan jemput bola di tengah musibah adalah bentuk nyata Dukcapil Prima, mendekatkan, memudahkan, dan membahagiakan masyarakat. Tidak boleh ada penduduk nan kehilangan haknya hanya lantaran arsip kependudukan rusak alias lenyap akibat gempa," ujarnya.
Kasubdit Tata Kelola dan Sumber Daya Manusia Teknologi Informasi dan Komunikasi Ditjen Dukcapil, Indersan Rakha, nan memimpin langsung tim pusat di lapangan, menyebut kunci dari jasa ini ada pada kecepatan koordinasi. "Koordinasi sigap antara tim pusat dan wilayah memastikan jasa melangkah efektif meski dalam keterbatasan. Dukcapil datang bukan hanya di kantor, tapi di titik pengungsian," katanya.
Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, menyampaikan terima kasih atas kehadiran tim dari pusat di tengah situasi nan tetap serba terbatas. "Kami sangat terbantu dengan kehadiran Dukcapil. Dokumen kependudukan nan diterbitkan hari ini menjadi kunci bagi penduduk untuk mengakses support dan jasa dasar," ujarnya.
Bagi penduduk nan mengantre pagi itu di Aeramo, selembar KTP-el alias kartu family nan baru dicetak barangkali tidak bakal mengembalikan rumah nan runtuh. Namun setidaknya, arsip itu membuka jalan bagi mereka untuk kembali mengakses support dan memulai proses memulihkan hidup, di tengah kampung nan tetap berduka.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·