Sejumlah catatan sejarah menyebut St. Paul’s dirancang Carlo Spinola, pemimpin Jesuit asal Italia. Pembangunan kompleks ini berada di bawah pengarahan Jesuit, tetapi pengerjaannya melibatkan keahlian para seniman dan perajin lokal.
Tradisi sejarah Makau menyebut adanya keterlibatan umat Kristen Jepang nan mengungsi ke Makau setelah menghadapi tekanan di Jepang. Catatan lain juga menyebut seniman dan perajin Tiongkok.
Kisah tentang para pekerja itu terasa semakin dekat saat saya memperhatikan ukiran di dinding. Reliefnya bukan hanya hiasan nan ditempelkan pada bangunan. Di sana tampak jejak dari pertemuan beragam tradisi, pendapat keagamaan nan dibawa para Jesuit, keahlian para perajin, dan ragam corak nan tumbuh di Asia.
Dalam catatan Macao Memory, gedung gereja dan kompleksnya terbakar pada 1595. Gereja kemudian dibangun kembali, lantaran Makau tetap menjadi tempat krusial bagi aktivitas misi dan pendidikan Jesuit.
Api pertama itu merusak koleksi dan buku-buku. Meski begitu, para Jesuit kembali membangun gereja dan tempat tinggal di area nan sama.
Belum lama digunakan kembali, kompleks gereja terbakar lagi pada 1601. Api menjalar dengan sigap dan membikin gereja lama nyaris seluruhnya musnah. Sebagian gedung kolese juga rusak.
Warga Makau berupaya membantu memadamkan api, tetapi nan sukses diselamatkan hanya sedikit. Sebuah ruang kuliah nan tersisa kemudian dipakai sementara sebagai tempat ibadah.
Kebakaran kedua ini menjadi awal dari pembangunan gereja nan lebih megah. Menurut Macao Memory, penduduk dan para pedagang ikut mengumpulkan biaya untuk membangunnya kembali.
Lebih dari dua abad kemudian, api kembali melalap kompleks ini. Kebakaran pertama kali terjadi di area dapur kompleks, lampau merambat dengan sigap ke gedung gereja.
Dalam waktu singkat, sebagian besar struktur hangus. Hanya kebinasaan granit di bagian depanlah nan tersisa. Api ketiga inilah nan membentuk pemandangan nan dikenal visitor hari ini. Kini, St. Paul’s menjadi landmark Makau.
Pada 1990-an, pemerintah Makau melakukan pekerjaan arkeologi dan konservasi di area ini. Penggalian mengungkap sisa-sisa struktur dan barang nan berangkaian dengan gereja.
Kawasan reruntuhan St. Paul’s kemudian menjadi bagian dari Pusat Sejarah Makau nan tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2005.
16 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·