Aktivis nan membawa misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla untuk Gaza ditangkap oleh otoritas Israel di perairan Mediterania(Sosial media X)
KELOMPOK hak asasi manusia (HAM) Israel, Adalah, mengungkap laporan mengerikan mengenai penyiksaan terhadap aktivis kemanusiaan dari Global Sumud Flotilla. Para aktivis nan ditahan oleh otoritas Israel dilaporkan mengalami sengatan listrik, kekerasan fisik, hingga pelecehan psikologis nan sistematis.
Berdasarkan kesaksian nan dikumpulkan tim norma Adalah hingga Kamis (21/5/2026), sedikitnya tiga aktivis kudu dilarikan ke rumah sakit akibat luka serius. Puluhan lainnya menderita patah tulang rusuk dan gangguan pernapasan akut akibat kekerasan selama proses penahanan pasca-pencegatan kapal di perairan internasional.
Poin Utama Kesaksian Adalah:
- Penggunaan perangkat sengat listrik secara berulang terhadap tahanan.
- Aktivis dipaksa melangkah membungkuk dan bertimpuh dalam waktu lama di Pelabuhan Ashdod.
- Pelepasan jilbab secara paksa terhadap sejumlah aktivis perempuan.
- Pembatasan akses info mengenai letak dan status norma para tahanan.
Keterlibatan Itamar Ben-Gvir
Dugaan kebijakan penyiksaan ini semakin diperkuat dengan unggahan video oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Dalam video tersebut, para aktivis terlihat bertimpuh dengan tangan diborgol ke belakang dan wajah menghadap lantai, sementara lagu kebangsaan Israel diputar sebagai corak penghinaan.
Adalah menuduh otoritas Israel secara sengaja menjalankan "kebijakan kriminal" nan bermaksud untuk menghina martabat manusia. "Tim norma kami menemukan kesaksian nan konsisten mengenai penggunaan sengatan listrik sebagai perangkat intimidasi," tulis pernyataan resmi Adalah.
Upaya Menembus Blokade Gaza
Global Sumud Flotilla berangkat dari Marmaris, Turki, pada pekan lampau dengan misi kemanusiaan untuk menembus blokade terlarangan Israel di Jalur Gaza nan telah berjalan sejak 2007. Konvoi ini melibatkan ratusan peserta dari 39 negara berbeda.
Insiden ini bukan nan pertama bagi armada tersebut. Pada April lalu, militer Israel juga melakukan serangan serupa di dekat Pulau Kreta, Yunani. Blokade ketat nan dilakukan Israel telah menyebabkan 2,4 juta masyarakat Gaza berada di periode kelaparan ekstrem, diperparah dengan serangan militer sejak Oktober 2023 nan telah menelan puluhan ribu korban jiwa.
Para aktivis dijadwalkan bakal dihadapkan ke pengadilan alias otoritas mengenai pada Kamis waktu setempat untuk meninjau status penahanan mereka sebelum prosedur deportasi dilaksanakan. Hingga buletin ini diturunkan, Mata Uang Rupiah terus dipantau fluktuasinya terhadap akibat geopolitik di Timur Tengah. (Ant/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·