Banyak langkah manusia untuk menyatakan keberpihakannya terhadap sesuatu. Ada nan turun ke jalan, menulis panjang lebar, dan ada pula nan cukup mengangkat selembar kain agar seluruh bumi tahu di sisi mana dia berdiri.
Itulah nan dilakukan Lamine Yamal saat parade juara FC Barcelona beberapa waktu lalu. Di tengah lautan manusia nan merayakan gelar La Liga, dia berdiri di atas bus terbuka sembari memegang bendera Palestina.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya gestur spontan anak muda nan larut dalam euforia juara. Namun di Barcelona, kota nan terlalu berkawan dengan sejarah perlawanan, simbol seperti itu nyaris mustahil dibaca sebagai sesuatu nan sederhana.
Sejarah Panjang Perjuangan Rakyat Catalan
Untuk memahami kenapa bendera Palestina di Barcelona terasa berbeda, kita perlu mundur jauh ke belakang. Bahkan jauh sebelum sepak bola menjadi kepercayaan baru di Eropa.
Catalunya pernah menjadi wilayah dengan identitas politik nan kuat. Mereka mempunyai bahasa, tradisi, dan sistem pemerintahan sendiri saat tetap berada dalam struktur Mahkota Aragon.
Semua bermulai pada 11 September 1714 saat Barcelona jatuh ke tangan pasukan Raja Philip V dari Bourbon setelah dikepung selama 14 bulan dalam Perang Suksesi Spanyol. Akibat kekalahan itu, Raja Felipe V memberlakukan Nueva Planta Decrees, serangkaian kebijakan nan secara perlahan mencabut beragam lembaga tradisional, patokan hukum, serta kewenangan otonomi nan selama ini dimiliki Catalunya. Sejak saat itu, kekuasaan politik semakin dipusatkan di Madrid, sementara ruang mobilitas Catalunya untuk mengatur dirinya sendiri kian menyempit.
Kekalahan ini mengakhiri lembaga dan kewenangan spesial Catalunya, nan kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Nasional Catalunya alias La Diada. Ironisnya, itu bukan seremoni kemenangan, melainkan peringatan atas kekalahan.
Luka itu semakin dalam pada era Francisco Franco setelah Perang Saudara Spanyol (1936-1939). Selama Perang tersebut, Catalunya menjadi salah satu pedoman utama pendukung Republik Spanyol. Posisi itu membikin mereka berada di garis depan perlawanan terhadap pasukan Nasionalis nan dipimpin Francisco Franco.
Ketika Franco melancarkan ofensif besar-besaran pada awal 1939, tindakan tersebut berujung pada jatuhnya Barcelona pada 26 Januari 1939, sekaligus menandai runtuhnya salah satu tembok terakhir kubu Republik.
Kekalahan itu memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Sekitar 200 ribu penduduk sipil dan tentara Republik meninggalkan tanah mereka, melangkah melintasi perbatasan menuju Prancis demi menghindari represi rezim baru.
Franco segera mencabut Statuta Otonomi Catalunya. Hak-hak politik wilayah dihapus, sementara pemerintahan dipusatkan secara ketat dari Madrid.
Tidak berakhir di ranah politik, represi juga menyasar identitas budaya. Bahasa Catalan dilarang digunakan di sekolah, media, hingga ruang publik, sementara simbol-simbol budaya lokal ditekan secara sistematis.
Bagi banyak penduduk Catalan, masa itu bukan hanya periode kekalahan politik, melainkan juga masa ketika identitas mereka dipaksa untuk bersembunyi. Menjadi Catalan berfaedah kudu hidup dengan rasa waswas, apalagi untuk sekadar berbincang dalam bahasa sendiri.
Selain itu, represi tersebut juga menelan banyak korban politik. Ribuan intelektual, aktivis, dan tokoh Republik dipenjara, diasingkan, apalagi dieksekusi, termasuk Presiden Catalonia, ialah Lluís Companys, nan ditangkap di Prancis lampau dieksekusi oleh rezim Franco pada 1940.
Di titik ini, menjadi Catalan bukan hanya identitas budaya. Ia berubah menjadi tindakan perlawanan.
Ironisnya, upaya menghapus identitas Catalan justru melahirkan pengaruh sebaliknya. Semakin ditekan, kesadaran kolektif sebagai bangsa justru semakin menguat, dan dari sanalah benih-benih tuntutan otonomi hingga kemerdekaan terus hidup sampai hari ini.
Dalam konteks seperti inilH FC Barcelona lahir sebagai simbol. Klub ini memang bermain sepak bola, tetapi bagi penduduk Catalonia, Barcelona selalu lebih dari itu.
Slogan “Més que un club” tidak lahir dari ruang rapat bagian pemasaran. Ia lahir dari sejarah panjang tentang kebutuhan untuk tetap terlihat ketika identitas sedang ditekan.
Pada masa Franco, stadion Camp Nou menjadi salah satu sedikit ruang di mana orang-orang bisa berkumpul tanpa terlalu banyak dicurigai. Mendukung Barcelona menjadi langkah paling kondusif untuk mengatakan, “kami tetap ada.”
Itulah sebabnya setiap simbol nan muncul di Barcelona selalu punya kemandang nan lebih panjang. Termasuk ketika seseorang mengangkat bendera Palestina.
Palestina dan Luka nan Terus Diulang
Tentu saja, Palestina dan Catalunya bukan cerita nan sama. Menyamakan keduanya secara mentah justru merusak konteks sejarah masing-masing.
Palestina bicara tentang kolonialisme, pendudukan, dan bentrok nan belum selesai sejak Nakba (1948). Ratusan ribu penduduk Palestina terusir dari rumah mereka, dan trauma itu diwariskan hingga hari ini.
Bagi rakyat Palestina, kehilangan rumah bukan metafora. Itu pengalaman nyata nan hidup dalam setiap generasi.
Namun justru di titik itulah resonansi itu muncul. Ketika sebuah bangsa merasa identitasnya terus dipertanyakan, mereka bakal memahami bahasa penderitaan bangsa lain tanpa perlu banyak penjelasan.
Mungkin Lamine Yamal tidak sedang memikirkan semua sejarah ini saat mengangkat bendera Palestina. Bisa jadi dia hanya mengikuti bunyi nuraninya.
Namun, sejarah sering bekerja dengan langkah nan aneh. Ia menempel pada tempat, simbol, dan momen-momen mini nan tidak direncanakan.
Ketika seorang pemain muda Barcelona mengangkat bendera Palestina di jalanan Barcelona, itu bukan hanya tentang Palestina. Itu juga tentang kota nan tahu rasanya hidup berbareng luka sejarah.
Barcelona memahami apa artinya memori kolektif, dan Palestina hidup di dalamnya setiap hari.
Sepak Bola Tidak Pernah Benar-Benar Netral
Banyak orang berambisi sepak bola tetap steril dari politik. Mereka mau stadion hanya berisi gol, sorak-sorai, dan statistik.
Sayangnya, manusia tidak pernah datang ke stadion sebagai makhluk kosong. Mereka membawa sejarah, keyakinan, dan nurani mereka masing-masing.
Karena perihal ini, sepak bola sering menjadi panggung paling jujur untuk memandang manusia apa adanya. Di sana, kegembiraan dan keberpihakan bisa berdiri berdampingan.
Gestur mini Yamal mungkin hanya berjalan beberapa detik. Namun bagi banyak orang, dia menjadi pengingat bahwa solidaritas sering lahir dari keahlian manusia untuk mengingat luka, apalagi luka nan bukan miliknya sendiri.
Dan mungkin, di era ketika terlalu banyak orang memilih kondusif dengan diam, keberanian paling sederhana memang cukup berupa selembar bendera nan diangkat tinggi-tinggi. Di kota nan sudah terlalu lama tahu bahwa ingatan adalah corak lain dari perlawanan.
19 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·