Ladies, Ini Masker yang Direkomendasikan Ahli Agar Terlindung dari Abu Vulkanik

Sedang Trending 47 menit yang lalu
Ilustrasi masker KN95. Foto: Andrey_Popov/Shutterstock

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (4/9) tengah malam terasa hingga beberapa hari setelahnya. Abu vulkanik dari letusan sekarang menyebar luas sampai ke sebagian wilayah Sumatra dan Jawa, termasuk DKI Jakarta.

Untuk melindungi diri dari abu vulkanik, salah satu langkah nan dilakukan adalah menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Meski begitu, masker nan digunakan tidak boleh sembarangan. Mengapa?

Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI Dr. Dicky Budiman, B.Med., MD., MScPH., Ph.D, menjelaskan bahwa abu vulkanik tidak sama seperti debu biasa, Ladies. Berbeda dengan debu nan condong halus, abu vulkanik mengandung silika mirip serpihan kaca nan tajam.

Ilustrasi masker KN95. Foto: Onjira Leibe/Shutterstock

“Dalam waktu paparan langung, jika abunya banyak, bakal menimbulkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk kering, rasa tidak nyaman di dada. Bahkan, orang sehat pun bisa mengalami keluhan seperti ini, disertai batuk dan iritasi nan meningkat seiring dengan paparan nan makin sering alias lama,” jelas Dicky ketika diwawancarai kumparanWOMAN pada Minggu (6/9).

Jenis masker nan bisa menyaring abu vulkanik ini, menurut Dicky, adalah N95 dan N99 alias masker dengan efisiensi nan setara.

“Yang saya rekomendasikan maskernya adalah masker respirator bersertifikasi industri setara N95 alias FFP2 di standar Eropa. Jadi, bukan masker bedah biasa. Ini juga sudah ada risetnya dari Durham University nan secara spesifik menguji abu vulkanik,” ucap peneliti di Griffith University Australia ini.

Dia mengatakan, efisiensi filtrasi masker N95 dan N99 mencapai lebih dari 98 persen terhadap abu vulkanik. Efisiensi penyaringan masker ini jauh lebih baik dibandingkan masker bedah biasa alias masker kain.

Ilustrasi masker KN95. Foto: JE-pics/Shutterstock

“Efisiensi N95 dan N99 equivalent jauh sekali di atas masker bedah biasa, nan hanya di kisaran 89–91 persen dan masker kain apa pun itu. Kalau masker kain dipakai, efisiensi filtrasinya hanya 44 persen. Jadi, saya tidak menyarankan masker kain. Usahakan masker N95 alias N99,” papar Dicky.

Mengapa masker bedah kurang direkomendasikan? Selain efisiensi filtrasinya lebih rendah, rupanya masker bedah condong lenggang ketika dipakai di wajah. Kelonggaran tersebut bisa menyebabkan kebocoran, sehingga abu vulkanik bisa masuk ke rongga pernapasan.

Namun, meskipun N95 filtrasinya sangat bagus, efisiensinya tidak bakal baik jika dipakainya secara lenggang dan tidak melekat dengan wajah.

Ilustrasi masker KN95. Foto: Maridav/Shutterstock

“Jadi, artinya kerapatan di wajah itu jauh lebih menentukan perlindungan nyata dibandingkan jenis material filter. Masker N95 ini sudah bagus, tapi jika dipakainya longgar, dia bisa jadi tidak lebih baik dari masker bedah nan dipakai dengan pas,” tegas Dicky.

Ladies, jika hendak bepergian, jangan lupa memakai masker N95 dan N99 dengan rapat, ya!

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan