Telur menjadi salah satu makanan nan cukup sering diberikan orang tua kepada anak. Selain mudah diolah, telur juga merupakan sumber protein hewani nan relatif terjangkau.
Namun, tetap ada sejumlah mitos nan membikin orang tua ragu memberikan telur kepada anak. Mulai dari dugaan makan telur setiap hari bisa menyebabkan bisul hingga kekhawatiran soal kolesterol.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin pun menjelaskan beberapa dugaan tersebut. Lantas, mana nan kebenaran dan mana nan mitos?
1. Makan telur setiap hari bikin anak bisulan — MITOS
Anggapan bahwa telur bisa menyebabkan bisul pada anak rupanya tidak benar. Menurut Menkes Budi Gunadi Sadikin, bisul terjadi lantaran jangkitan bakteri, bukan lantaran mengonsumsi telur.
Namun, jika setelah makan telur anak justru mengalami gatal-gatal, kondisi tersebut perlu diperhatikan lantaran bisa menjadi tanda alergi. Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memastikan penyebabnya.
“Bisul itu disebabkan oleh jangkitan bakteria. Kalau teman-teman makan telur kemudian gatal-gatal, itu artinya alergik,” tegas Menkes Budi dikutip dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
2. Anak sehat tidak boleh makan kuning telur lantaran tinggi kolesterol — MITOS
Kuning telur kerap dianggap kudu dihindari lantaran mengandung kolesterol. Padahal, anak nan sehat tetap dapat mengonsumsi telur, termasuk bagian kuningnya, sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Jadi, orang tua tidak perlu langsung menghindari kuning telur hanya lantaran cemas kolesterol.
3. Makan telur setiap hari bisa membantu mencegah stunting — FAKTA, tetapi bukan satu-satunya faktor
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani nan krusial untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Pangan hewani seperti telur, ikan, daging, dan susu mempunyai kandungan unsur gizi nan krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan. Kemenkes juga menganjurkan pemenuhan protein hewani setiap hari, terutama pada anak usia di atas 6 bulan nan sudah mendapatkan MPASI.
Menkes Budi juga menekankan pentingnya protein hewani dalam makanan anak, khususnya pada periode di bawah usia 2 tahun. Telur disebut sebagai salah satu sumber protein hewani nan mudah diberikan kepada anak.
“Ibu-ibu, dari sekarang jika mau anaknya pintar, siapin telur setiap hari,” tuturnya
Namun, memberikan telur saja tidak otomatis membikin anak terbebas dari stunting. Pencegahan stunting perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi seimbang, pemberian MPASI nan sesuai, pemantauan pertumbuhan, hingga pencegahan dan penanganan infeksi.
Jadi, orang tua tidak perlu cemas memberikan telur kepada si mini selama anak tidak mempunyai alergi terhadap telur. nan terpenting, pastikan kebutuhan gizinya tercukupi dan makanan anak tetap beragam ya, Moms.
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·