Permissive Parenting: Saat Orang Tua Sering Bilang “Iya” agar Anak Tak Menangis

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Permissive Parenting: Saat Orang Tua Sering Bilang “Iya” agar Anak Tak Menangis. Foto: LightField Studios/Shutterstock

Moms, pernah mengiyakan kemauan anak hanya agar dia tidak menangis alias ngambek? Jika terlalu sering dilakukan, kebiasaan ini bisa menjadi salah satu corak permissive parenting.

Psikolog Klinis, Shafira, menjelaskan permissive parenting merupakan salah satu style pengasuhan nan ditandai dengan kehangatan dan responsivitas orang tua nan tinggi, tetapi kontrol perilaku terhadap anak condong rendah.

Dalam pola asuh ini, patokan nan diberikan kepada anak bisa tidak konsisten. Komunikasi antara orang tua dan anak juga kurang jelas, sementara orang tua condong menghindari mengatakan “tidak” terhadap kemauan anak.

Psikolg klinis, Shafira. Foto: kumparan/Eka Nurjanah

“Anak diberikan kebebasan untuk meregulasi perilakunya,” jelas Shafira kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Meski sama-sama mengutamakan kehangatan dalam hubungan orang tua dan anak, permissive parenting berbeda dengan gentle parenting. Gentle parenting tetap memberikan batas dan patokan nan jelas, tetapi disampaikan dengan langkah nan penuh empati dan menghargai emosi anak.

Terlalu Sering Bilang “Iya”, Apa Dampaknya?

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: 9nong/Shutterstock

Mengabulkan kemauan anak mungkin menjadi langkah tercepat untuk menghentikan tangisan alias tantrum. Namun, jika dilakukan terus-menerus, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi rasa kecewa dan memahami batasan.

Menurut Shafira, ada beberapa akibat nan dapat muncul ketika orang tua terlalu sering mengiyakan kemauan anak, yaitu:

-Anak condong menyalahkan lingkungan.

-Kecenderungan untuk kesulitan meregulasi diri sendiri lantaran susah mengetahui batas nan dimiliki oleh lingkungan dan memandang akibat dari perilakunya.

-Kesulitan untuk berdikari lantaran struktur nan kurang diberikan oleh orang tua.

Tetap Sayang, tapi Boleh Bilang “Tidak”

Ilustrasi Ibu dan anak. Foto: Shutter Stock

Lantas, gimana orang tua bisa memberikan kasih sayang tanpa selalu mengabulkan kemauan anak?

Shafira menekankan pentingnya memberikan kehangatan nan tetap disertai batasan. Ketika anak menginginkan sesuatu nan tidak bisa diberikan, orang tua dapat memvalidasi perasaannya tanpa kudu mengabulkan keinginannya.

“Setelah memvalidasi emosinya, orang tua bisa mengingatkan kembali patokan alias batas nan dimiliki alias disepakati,” tutur Shafira.

Jika memungkinkan, berikan pilihan nan tetap berada dalam batas tersebut. Jadi, orang tua mengatakan “tidak” bukan berfaedah tidak menyayangi anak. Kehangatan nan disertai batas justru membantu anak belajar memahami aturan, mengelola emosi, dan menjadi lebih mandiri.

kumparan post embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan