Sejumlah penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, mengalami pembatalan pada Minggu (6/9) imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan keterangan manajemen Bandara Ngurah Rai per pukul 15.30 WITA, sebanyak 42 penerbangan mengalami penyesuaian jadwal.
Pantauan di Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai, ratusan penumpang tampak mengantre di jasa info penerbangan (customer service) maskapai. Mereka mencari kepastian agenda penerbangan hingga melakukan penjadwalan ulang (reschedule) tiket.
Manajemen Bandara Ngurah Rai juga menyediakan jasa service recovery bagi penumpang nan terdampak pembatalan penerbangan. Layanan tersebut berupa meja unik nan menyediakan minuman dan makanan ringan.
Tak hanya penduduk Indonesia, sejumlah penduduk negara asing (WNA) juga terdampak pembatalan penerbangan. Salah satunya Nick dan temannya, Greg, penduduk Australia.
Mereka semestinya terbang ke Jakarta pada pukul 17.30 WITA untuk menghadiri konferensi. Namun, penerbangan mereka dibatalkan pada Minggu (6/9). Keduanya kemudian datang ke Bandara Ngurah Rai untuk menjadwalkan ulang tiket.
"Kami mau ke Jakarta sekarang, tetapi tampaknya penerbangan dibatalkan. Jadi kami mau lihat apakah bisa dapat penerbangan baru untuk besok dan lihat gimana nanti," kata Nick saat ditemui di Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai, Minggu (6/9).
Nick dan Greg mendapatkan pemberitahuan pembatalan penerbangan melalui email. Namun, Nick tetap datang ke Bandara Ngurah Rai untuk mencari agenda penerbangan dengan maskapai lain agar dapat tiba di Jakarta tepat waktu sebelum konferensi.
Nick mengaku kecewa dengan pembatalan tersebut. Namun, dia menyadari kondisi itu berada di luar kendalinya. Beruntung, dia tetap mempunyai jarak waktu beberapa hari sebelum konferensi.
Nick berambisi segera mendapatkan penerbangan baru. Meski demikian, dia memperkirakan gangguan penerbangan dapat berjalan lebih lama dari nan diharapkan.
"Saya berambisi kami bisa mendapat penerbangan baru secara gratis, tapi saya merasa mereka bakal meminta kami melakukan pembatalan (refund), lampau membeli tiket baru. Saya juga merasa ini bakal menyantap waktu lebih lama dari nan kami inginkan," jelasnya.
Hal serupa dialami Martin, turis asal Belanda nan hendak kembali ke negaranya setelah berpiknik di Bali. Dia menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan tujuan Amsterdam dan kudu transit terlebih dulu di Bandara Soekarno-Hatta.
"Penerbangan saya pukul 18.30 WITA. Namun, penerbangan saya dibatalkan lantaran ada beberapa aktivitas gunung berapi nan terjadi saat ini. Jadi, itulah kenapa banyak penerbangan dari sekitar Jakarta dibatalkan saat ini," ungkap Martin.
Martin mengetahui pembatalan penerbangannya setelah menghubungi maskapai melalui Instagram. Pihak maskapai kemudian mengonfirmasi bahwa penerbangannya dibatalkan.
Setelah itu, Martin memilih mengantre di Bandara Ngurah Rai untuk mendapatkan info lebih lanjut mengenai penerbangannya. Dia melakukan perihal tersebut lantaran masa bertindak visanya hanya tersisa tujuh hari.
"Kami sebenarnya hanya liburan, tapi sepertinya liburannya bakal diperpanjang. Saya mau memandang apakah mereka bisa mengalihkan penerbangan saya. Tidak kudu ke Jakarta, saya butuh pengalihan rute ke tempat lain alias terbang langsung ke Amsterdam jika memungkinkan," ucapnya.
Jika belum mendapatkan penerbangan kembali ke negaranya, Martin berencana memesan hotel di Denpasar untuk menginap selama satu malam.
"Mudah-mudahan dalam tujuh hari semuanya bisa terselesaikan," tambahnya.
Diketahui, manajemen Bandara Ngurah Rai mencatat sebanyak 42 penerbangan mengalami penyesuaian agenda imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Dari jumlah tersebut, 30 penerbangan menuju Bandara Soekarno-Hatta dibatalkan dan satu penerbangan mengalami penundaan.
Sementara itu, dua penerbangan menuju Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan dua penerbangan menuju Bandara Husein Sastranegara, Bandung, turut dibatalkan.
Selain itu, terdapat tujuh penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Ngurah Rai nan dibatalkan.
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·