Kutu Laut Raksasa Ini Bisa Bertahan Hidup Tanpa Makan Lebih dari 5 Tahun

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Hu, pemilik restoran, memegang isopoda raksasa untuk difoto di dapur di Taipei, Taiwan. Foto: Ann Wang/REUTERS

Di kedalaman laut nan gelap dan minim makanan, hidup salah satu hewan paling unik di Bumi, dia adalah isopoda raksasa alias juga dijuluki kutu luat. Makhluk mirip kutu laut berukuran besar ini telah lama membikin intelektual penasaran lantaran bisa memperkuat hidup di lingkungan nan sangat ekstrem.

Kini, penelitian terbaru nan terbit di jurnal Cell mengungkap salah satu rahasia terbesar mereka. Kutu laut raksasa rupanya dapat memperkuat tanpa makan selama lebih dari lima tahun.

Temuan tersebut membantu menjelaskan gimana hewan ini bisa tumbuh menjadi salah satu penunggu terbesar dasar laut, meski hidup di wilayah nan nyaris miskin sumber makanan.

Isopoda raksasa hidup di kedalaman laut nan bisa mencapai lebih dari 2.000 meter di bawah permukaan. Sinar mentari di wilayah tersebut tidak bisa menembus, dengan suhu sangat rendah dan makanan sangat langka. Kondisi ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar bagi para ilmuwan.

Bagaimana hewan berukuran besar bisa memperkuat di lingkungan nan nyaris tidak menyediakan sumber energi? Untuk menjawab pertanyaan itu, tim peneliti dari Institute of Oceanology, Chinese Academy of Sciences (IOCAS), menggunakan pendekatan multi-omics dan serangkaian uji kegunaan biologis.

Metode multi-omics memungkinkan peneliti mempelajari gen, protein, hingga proses metabolisme dalam tubuh hewan untuk memahami sistem biologis nan mendukung kelangsungan hidupnya.

Hasil kajian tersebut kemudian dikombinasikan dengan penelitian nan mengukur langsung langkah kerja tubuh isopoda. Dari situlah para intelektual menemukan salah satu kekuatan super hewan ini, ialah lambung berukuran raksasa.

video youtube embed

Salah satu temuan paling mencolok dalam studi ini adalah ukuran lambung isopoda raksasa nan luar biasa besar. Lambung tersebut menempati sekitar dua pertiga dari keseluruhan tubuhnya, proporsi nan jauh lebih besar dibandingkan jenis isopoda lain nan hidup di perairan dangkal alias wilayah pasang surut.

Ukuran lambung nan besar memberi untung penting. Saat makanan langka akhirnya tiba di dasar laut, misalnya dalam corak buntang paus alias hewan besar lain nan tenggelam ke dasar samudra, isopoda raksasa dapat makan dalam jumlah sangat besar hingga perutnya betul-betul penuh. Makanan itu kemudian disimpan sebagai persediaan daya jangka panjang nan memungkinkan mereka memperkuat selama bertahun-tahun tanpa perlu makan lagi.

Peneliti menemukan bahwa makanan nan dikonsumsi isopoda diubah menjadi material menyerupai lumpur di dalam lambungnya. Menariknya, lingkungan dalam lambung tersebut tidak banyak dihuni kuman pencernaan umum seperti golongan Firmicutes. Sebaliknya, lambung isopoda kaya bakal kuman dari golongan Chlamydiae.

Meski nama Chlamydiae sering dikaitkan dengan penyakit menular seksual, golongan kuman ini sebenarnya sangat luas dan sebagian anggotanya diketahui berkedudukan dalam metabolisme serta penyimpanan lemak.

Kemampuan menyimpan persediaan lemak dalam jumlah besar menjadi aset krusial bagi hewan nan hanya mendapat kesempatan makan sekali dalam beberapa tahun.

Spesies baru isopoda raksasa nan diberi nama Bathynomus vaderi. Foto: ZooKeys

Rahasia lain dari keahlian memperkuat hidup isopoda raksasa terletak pada langkah mereka mengelola energi.

Setelah makan dalam jumlah besar dan menyimpan persediaan energi, hewan ini secara drastis memperlambat laju metabolismenya. Dengan demikian, kebutuhan daya untuk mempertahankan kehidupan menjadi jauh lebih rendah.

Para peneliti sukses mereplikasi kejadian tersebut melalui penelitian laboratorium. Mereka mengisolasi gen berjulukan ND1, nan diduga diperoleh isopoda dari kuman simbiotik melalui proses transfer gen horizontal. Gen tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ikan zebra (zebrafish), nematoda, dan sel manusia.

Hasil, pada suhu normal, gen ND1 justru meningkatkan metabolisme sehingga organisme menjadi lebih rentan terhadap kelaparan. Namun ketika suhu diturunkan menyerupai kondisi laut dalam tempat isopoda hidup, efeknya berbalik.

Gen tersebut menekan aktivitas metabolisme dan mengurangi aktivitas mitokondria, ialah bagian sel nan berfaedah menghasilkan energi. Pada ikan zebra, pengaruh ini meningkatkan ketahanan terhadap kelaparan hingga 37 persen.

Menurut penulis utama penelitian, Yuan Jianbo, temuan ini memberikan wawasan baru mengenai langkah organisme memperkuat hidup di lingkungan nan sangat keras.

"Karya kami tidak hanya mengungkap misteri keahlian memperkuat tanpa makan dalam waktu sangat lama pada isopoda laut dalam, tetapi juga memberikan paradigma krusial untuk memahami gimana kehidupan menyeimbangkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup di lingkungan ekstrem," ujarnya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran tubuh besar bukanlah halangan bagi kehidupan di laut dalam, selama organisme mempunyai strategi biologis nan tepat untuk menyimpan dan menghemat energi.

Jadi, meskipun isopoda raksasa bisa menghabiskan lebih dari lima tahun tanpa makan, ketika makanan akhirnya datang ke dasar laut, mereka tahu betul langkah berpesta sepuasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan