Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan program kompor listrik dengan teknologi baru sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Bahlil membeberkan ketergantungan Indonesia terhadap LPG tetap sangat tinggi. Saat ini sekitar 80% kebutuhan LPG nasional tetap dipenuhi melalui impor, sehingga membebani devisa negara dan anggaran subsidi energi.
"Dan devisa kita setiap tahun keluar untuk LPG minimal Rp120 triliun, di saat ICP seperti ini, nilai devisa kita keluar untuk membeli LPG itu sekitar di atas Rp130 triliun. Subsidinya di atas Rp80 triliun," kata Bahlil saat Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).
Bahlil menilai kondisi tersebut tidak bisa terus dibiarkan tanpa adanya pengganti daya nan lebih efisien. Karena itu, pemerintah mulai mendorong penggunaan kompor listrik sebagai salah satu solusi untuk mengurangi konsumsi LPG.
Namun berbeda dengan program sebelumnya nan sempat menuai penolakan masyarakat, Bahlil menegaskan kompor listrik nan bakal dikembangkan kali ini menggunakan teknologi nan lebih modern dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
"Ada model kompor listrik nan model baru. Jadi memang semakin ke sini ada teknologi nan jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik nan lama. Nah kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," katanya.
Sebagaimana diketahui, Kementerian ESDM mengalokasikan anggaran sebesar Rp815,56 miliar untuk program pengadaan kompor listrik pada tahun 2027.
Adapun, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong diversifikasi daya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Liquefied Petroleum Gas (LPG) nan selama ini banyak dipenuhi dari impor.
Bahlil menyampaikan bahwa anggaran tersebut masuk dalam pagu Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) dan telah tercantum dalam Surat Bersama Pagu Indikatif (SBPI).
"Kompor listrik, ini lantaran kita mengurangi kebutuhan LPG, kita cari bauran daya lain. Jadi daya lain kita bukan hanya LPG, ada kompor listrik, CNG, dan lain-lain itu Rp815,56 miliar," kata Bahlil.
Selain kompor listrik, Kementerian ESDM juga mengalokasikan anggaran untuk program motor listrik sebesar Rp635,24 miliar sebagai bagian dari transisi daya nasional.
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·