Niko Prayoga
, Jurnalis-Sabtu, 15 Agustus 2026 |19:17 WIB

Kurang Tidur Ganggu Kesehatan Paru-Paru (Foto: Freepik)
JAKARTA – Durasi tidur rupanya tidak hanya berangkaian dengan rasa capek dan kebugaran tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan sistem pernapasan. Tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama sama-sama dikaitkan dengan lebih seringnya muncul keluhan seperti batuk, mengi, dan sesak napas.
Dokter Spesialis Paru sekaligus Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Erlina Burhan, mengingatkan pentingnya menjaga lama tidur nan cukup untuk membantu tubuh, termasuk paru-paru, melakukan pemulihan secara optimal.
“Saya mau mengingatkan Anda nan sering begadang, alias justru doyan tidur lama, keduanya rupanya sama-sama bisa memengaruhi napas Anda. Lalu, sebenarnya berapa lama kita perlu tidur?” kata Prof. Erlina, dikutip Sabtu (15/8/2026).
Ia merujuk pada studi nan menganalisis info survei kesehatan nasional Amerika Serikat alias National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) periode 2005–2012. Penelitian tersebut melibatkan 14.742 orang dewasa dan menemukan bahwa lama tidur 7–8 jam per malam berangkaian dengan tingkat keluhan pernapasan nan lebih rendah.
Kelompok nan tidur dalam rentang tersebut tercatat lebih jarang mengalami masalah pernapasan. Sebaliknya, kurang tidur secara terus-menerus dapat mengurangi waktu tubuh untuk melakukan proses pemulihan sehingga berpotensi memengaruhi kondisi saluran pernapasan.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·