Musisi asal Sleman, Kunto Aji kembali ke wilayah asalnya untuk membawakan tembang macapat dalam pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 di Lapangan Beran, Sleman, Minggu (13/9).
Macapat merupakan puisi tradisional Jawa nan dinyanyikan dengan patokan tertentu. Pemilihan macapat dalam pembukaan FKY 2026 juga berangkaian dengan tema “Bahasa” berjudul “AKSARA”. Tema tersebut diterjemahkan dalam seremoni pembukaan melalui beragam corak bahasa dan ekspresi budaya.
Laporan panitia nan biasanya disampaikan melalui pidato diubah menjadi tembang macapat nan dibawakan Kunto Aji. Sementara sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X diwujudkan melalui pembacaan geguritan.
Bagi Kunto Aji, penampilan tersebut juga menjadi pengalaman baru. Ia untuk pertama kalinya membawakan tembang macapat dan melakukannya secara langsung di hadapan Sri Sultan.
“Kalau saya sebagai seniman ya ndredegnya, groginya tuh ada banget. Tapi nan jelas kan sudah saya latih dari kemarin, cukup lama. Saya dibantu sama Mas Paksih untuk bisa mendeliver apa nan diperlukan,” ujar Kunto Aji.
Rasa gugup itu semakin terasa setelah lagu Indonesia Raya selesai dikumandangkan. Kunto kemudian berbalik dan berhadapan langsung dengan Sri Sultan sebelum membawakan macapat.
“Terutama momen-momen ketika lenyap lagu Indonesia Raya terus kembali badan, langsung lihat Ngarsodalem, langsung bawain, langsung bacakan macapat tuh ya deg-degan banget. Tapi ya alhamdulillah sih bisa terlewati dengan baik dan wah, kombinasi campur lah rasanya,” kata dia.
Macapat nan dibawakan Kunto berisi laporan mengenai penyelenggaraan FKY sekaligus permohonan restu dan angan agar rangkaian pagelaran melangkah lancar.
Penampilannya menjadi bagian dari pagelaran kolosal “Tubuhku Aksaraku” garapan Pulung Dance Studio. Tembang nan dibawakan Kunto kemudian direspons melalui aktivitas oleh nyaris 600 penari dari lima kabupaten/kota di DIY.
Para penari berasal dari Praba Sambada Kabupaten Sleman, Komunitas Cantrik Kabupaten Kulon Progo, Paguyuban Seniman Tari Bantul Kabupaten Bantul, Forseta Handayani Kabupaten Gunungkidul, serta YK Reborn Kota Yogyakarta. Konsep pembukaan tahun ini berbeda dari penyelenggaraan FKY sebelumnya nan menggunakan pawai di sejumlah tempat. Pada FKY 2026, pagelaran kolosal dari lima wilayah DIY dipusatkan di satu lokasi.
Setelah macapat dan pagelaran tari, Sri Sultan membuka FKY 2026 dengan membacakan geguritan berjudul “Kena Ngapa Yogya?”. Geguritan merupakan puisi nan ditulis dalam bahasa Jawa.
Selain terlibat dalam seremoni pembukaan, Kunto Aji juga tampil berbareng Orkes Keroncong Aksara. Rangkaian pembukaan turut menghadirkan Smarai, Palang Pintu dari Jakarta, dan Yogyakarta Royal Choir.
FKY 2026 berjalan di Lapangan Beran, Sleman, pada 13–19 September 2026. Tema “Bahasa” menjadi bagian keempat dari rangkaian pentalogi FKY setelah Pangan pada 2023, Benda pada 2024, dan Adat Istiadat pada 2025. Rangkaian tersebut bakal dilanjutkan dengan tema Ritual pada 2027.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·