Kunjungi Haiti yang Dilanda Kekerasan Geng, Sekjen PBB Antonio Guterres Minta Maaf kepada Warga

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Kunjungi Haiti nan Dilanda Kekerasan Geng, Sekjen PBB Antonio Guterres Minta Maaf kepada Warga Sekjen PBB Antonio Guterres meminta maaf kepada penduduk Haiti lantaran merasa bumi internasional telah menelantarkan mereka di tengah krisis kekerasan geng.(AFP)

SEKRETARIS Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyampaikan permohonan maaf kepada penduduk Haiti atas apa nan dia sebut sebagai pengabaian oleh organisasi internasional. Meski demikian, dalam kunjungannya ke negara Karibia nan dilanda kekerasan tersebut, dia mencatat tetap ada "secercah" harapan.

Guterres mengunjungi sebuah jejak sekolah berjulukan Colombie nan sekarang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan bagi lebih dari 1.250 orang nan telantar akibat kekerasan. Di dalam sebuah ruangan beratap seng nan sangat panas, seorang ibu dengan empat anak mengeluhkan kondisi hidup mereka nan tidak tertahankan.

"Lima puluh orang dalam satu ruangan, sepuluh keluarga, tanpa privasi," ujarnya, sementara tetangganya mengeluhkan masalah kutu busuk dan anak-anak nan kehilangan akses sekolah.

Mendengar keluhan tersebut, Guterres langsung menyampaikan penyesalannya.

"Saya meminta maaf kepada Anda lantaran tidak bisa memobilisasi organisasi internasional," kata Ketua PBB tersebut kepada mereka. "Kami tahu seberapa besar penderitaan nan Anda alami dan saya di sini untuk mendengarkan Anda."

Krisis Kemanusiaan dan Dana nan Minim

Saat ini, situasi kemanusiaan di Haiti berada dalam kondisi kritis. Rencana bantuan kemanusiaan PBB tahun 2026 untuk Haiti nan dianggarkan sebesar US$880 juta, sejauh ini pendanaannya belum mencapai seperempat dari total kebutuhan.

Sebagai negara termiskin di benua Amerika, Haiti telah bertahun-tahun menderita akibat ketidakstabilan. Geng-geng bersenjata nan kuat terus melakukan pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, hingga penculikan secara merajalela.

Berdasarkan info PBB, nyaris 1,5 juta orang sekarang telantar di negara berpenduduk sekitar 11 juta jiwa tersebut, dan lebih dari lima juta orang menghadapi kerawanan pangan nan parah.

Ketidakstabilan Politik nan Berlarut

Krisis keamanan di Haiti semakin memburuk pada awal tahun 2024, ketika gelombang kekerasan geng memaksa perdana menteri nan menjabat saat itu untuk mengundurkan diri. Posisi tersebut sempat digantikan oleh majelis presiden sementara. Namun, ketika mandat majelis tersebut berhujung pada Februari lalu, kekuasaan pelaksana beranjak ke Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aime, nan menyambut langsung kehadiran Guterres.

Haiti tercatat belum pernah menggelar pemilu lagi sejak tahun 2016, terutama akibat buruknya aspek keamanan. Presiden terakhir mereka, Jovenel Moise, tewas dibunuh pada Juli 2021.

Guterres, nan tiba menggunakan helikopter dari Republik Dominika, tetap menyuarakan optimismenya melalui sebuah unggahan di media sosial X.

"Situasi kemanusiaan di sini sangat memprihatinkan, namun ada secercah angan nan redup," tulis Guterres. "Kita kudu memihak Haiti." (AFP/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia