Opini
, Jurnalis-Rabu, 18 Februari 2026 |22:28 WIB

Presiden Prabowo Subianto (Foto: Biro Pers Setpres)
(Oleh: Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro)
POLITIK luar negeri Indonesia sekarang memasuki babak baru. Lebih nyata dan lebih tegas. Arah kebijakan luar negeri Indonesia sekarang tampak lebih jelas. Banyak langkah nan dulu terasa lambat, sekarang bergerak cepat. Indonesia tidak lagi hanya hadir, tetapi juga memimpin percakapan global.
Dalam beberapa bulan terakhir, posisi Indonesia makin diperhitungkan. Di UN Human Rights Council, Indonesia dipercaya menjadi ketua. Indonesia juga masuk ke dalam BRICS, klub negara ekonomi besar nan menjadi pusat perhatian dunia.
Tidak hanya itu, Indonesia juga datang sebagai tamu kehormatan negara-negara besar di dunia, seperti Prancis, Tiongkok, dan India. Semua itu menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia sekarang punya daya tarik baru.
Langkah terbaru Presiden Prabowo adalah kunjungan ke luar negeri untuk menandatangani Agreement on Reciprocal Trade alias ART. Ia juga berjumpa Presiden Donald Trump dalam forum Board of Peace. Dua agenda ini mencerminkan arah diplomasi nan tidak hanya simbolik, tetapi juga konkret.
Perjanjian perdagangan resiprokal nan bakal ditandatangani merupakan kesepakatan nan bermaksud menciptakan hubungan perdagangan nan lebih adil. Indonesia sukses menurunkan tarif jual beli dengan Amerika Serikat. Dampaknya bisa langsung terasa. Produk Indonesia lebih mudah masuk pasar besar. Ekspor meningkat. Lapangan kerja terbuka. Ini bukan diplomasi basa-basi, melainkan diplomasi nan menyentuh dapur rakyat.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·