Kumpulkan Industri Hulu-Hilir, Menperin Buka-bukaan Stok Plastik di RI

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Kamis, 16 April 2026 |20:50 WIB

Kumpulkan Industri Hulu-Hilir, Menperin Buka-bukaan Stok Plastik di RI

Kumpulkan Industri Hulu-Hilir, Menperin Buka-bukaan Stok Plastik di RI (Foto: Dokumentasi Kemenperin)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencermati dinamika geopolitik bumi nan kian bergejolak. Situasi di area Selat Hormuz menjadi perhatian unik pemerintah lantaran berakibat pada stabilitas rantai pasok bahan baku petrokimia serta industri plastik nasional.

Kemenperin pun mengumpulkan pelaku industri hulu petrokimia, sektor antara, industri hilir, hingga organisasi daur ulang plastik. Pertemuan ini bermaksud untuk mengevaluasi kondisi terkini sekaligus merumuskan strategi mitigasi bersama.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa melalui forum tersebut, para pelaku industri optimistis mengenai kesiapan stok plastik domestik. 

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan agunan dari industri bahwa stok plastik semestinya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, lantaran pemerintah tetap bakal terus memantau perkembangan situasi dunia secara jeli nan berakibat terhadap produksi dan stok subsektor ini,” ujar Agus di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Adapun pada pertemuan tersebut, asosiasi dan pelaku industri nan hadir, antara lain Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Indonesia, PT Asahimas Chemical, PT Polytama Propindo, PT Polyplex Films Indonesia, PT Kofuku Plastic Indonesia, Indorama Group, PT Trinseo Materials Indonesia, PT Lotte Chemical Titan Nusantara, Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), PT Astina Indah Abadi, dan PT Bumi Lestari Unggul.

Selanjutnya, PT Selamat Anugrah Indonesia, PT Pelita Mekar Semesta, Indonesian Plastics Recyclers (IPR), Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (GIATPI), Asosiasi Ekspor Impor Plastik Indonesia (AEIXIPINDO), Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas), PT Supernova Flexible Packaging, Asosiasi Plastik Akal Sehat Indonesia (PASTI), Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI), PT Indopoly, serta Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (APHINDO).

Selain optimisme stok, pihak industri juga berkomitmen untuk menjamin keberlangsungan suplai plastik bagi para pelaku upaya mini agar produk mereka tetap mempunyai daya saing nan kuat. Namun, Kemenperin menyadari bahwa ketegangan di Selat Hormuz memicu anomali pada nilai produk plastik dalam negeri.

Peningkatan biaya operasional tidak terhindarkan akibat naiknya ongkos logistik dan biaya angkut pelabuhan, serta adanya penerapan premi tambahan surcharge dan molornya lama pengiriman bahan baku impor.

“Waktu pengiriman nan sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berakibat pada peningkatan beban biaya produksi,” ungkap Gumiwang.

Lebih lanjut, Agus menekankan bahwa tantangan dunia saat ini menjadi pelajaran berbobot untuk mengakselerasi kemandirian industri petrokimia nasional. Ketergantungan terhadap impor kudu ditekan melalui penguatan kapabilitas produksi dalam negeri.

“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional nan kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ujarnya.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari

Follow

Berita Terkait

Telusuri buletin finance lainnya

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com