Jakarta, CNBC Indonesia - Uang nan disimpan di sofa buat geger Afrika Selatan (Afsel). Sang Presiden, Cyril Ramaphosa, apalagi terancam dilengserkan.
Hal ini mengenai skandal "Phala Phala" merujuk penginapan satwa liar milik sang Ramaphosa. Sebuah kejadian pencurian menjadi viral, saat maling sukses membawa kabur duit tunai senilai US$580.000 (sekitar Rp10,18 miliar), nan tersembunyi secara rahasia di sofa penginapan itu.
Bagaimana Kronologinya?
Pencurian itu terjadi tahun 2020. Tapi, kasus tersebut mencuat ke publik pada Juni 2022.
Ini setelah mantan kepala badan intelijen Afsel, Arthur Fraser, melaporkan kasus itu ke polisi. Ia menuduh Ramaphosa melakukan sejumlah pelanggaran.
Dikatakan bahwa ada "operasi rahasia di luar catatan resmi pemerintah" untuk mendapatkan kembali duit tersebut. Hal ini akhirnya memberikan "senjata ampuh" bagi oposisinya untuk menggugat janji Ramaphosa mengenai "pemerintahan nan bersih".
Parlemen pun mengusulkan upaya penyelidikan. Meski demikian, mengutip The Financial Times Jumat (11/9/2026), tim kuasa norma Ramaphosa berupaya agar penyelidikan dinyatakan tidak sah dan dibatalkan.
South Africa's President Cyril Ramaphosa attends the 46th Ordinary Summit of the Southern African Development Community (SADC) in Durban, KwaZulu-Natal, South Africa, August 17, 2026. Jairus Mmutle/GCIS/Handout via REUTERS THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY Foto: via REUTERS/Jairus Mmutle
Uang dari Penjualan Kerbau?
Ramaphosa mengatakan duit tersebut berasal dari dari penjualan kerbau kepada seorang pengusaha asal Sudan. Namun tak semua orang percaya.
Bahkan penjelasannya memicu gelak tawa sekaligus skeptisme. Tapi gimana Ramaphosa berupaya merebut duit itu kembali menjadi pertanyaann.
Intinya ada tiga persoalan dibalik duit tersebut. Tak hanya gimana langkah pencuri itu ditangani dan benarkah ada operasi rahasi, dari mana asal usul duit itu sebenarnya, lampau apakah Ramaphosa melanggar tanggungjawab konstitusional sebagai presiden.
Dimakzulkan?
Sebenarnya di 2022 temuan penyelidik parlemen mengatakan terdapat "cukup bukti untuk meminta pertanggungjawaban Ramaphosa". Namun, Majelis Nasional, nan saat itu dikuasai partainya ANC, memutuskan untuk tidak melanjutkan proses penyelidikan pemakzulan secara penuh.
Namun, partai-partai oposisi menggugat keputusan tersebut ke pengadilan. Pada Mei 2026 ini, Mahkamah Konstitusi memerintahkan parlemen untuk menghidupkan kembali proses pemakzulan.
Hingga hari ini, sebenarnya kasus tetap bergulir. Ini bakal menentukan nasib Ramphosa dan potensi dia tergeser dari bangku kepresidennya.
"Partai-partai oposisi telah mencicipi kemenangan awal," ujar seorang petugas pembelaan di Judges Matter, lembaga pemantau norma di Universitas Cape Town, Mbekezeli Benjamin.
"Hal ini bakal melemahkannya secara signifikan, serta turut melemahkan faksi pendukungnya maupun calon penerusnya kelak," tambah Benjamin
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·