Krisis Biaya Hidup, Geger Harga Ayam Setengah Porsi Rp690 Ribu

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah restoran baru di New York, Amerika Serikat, mendadak menjadi pusat perdebatan sengit mengenai krisis biaya hidup setelah mematok nilai US$40 (Rp690.120) untuk seporsi separuh ayam panggang. Pemilik restoran Gigi's di Brooklyn, Hugo Hivernat, memihak kebijakan nilai tersebut dengan menyatakan bahwa tingginya biaya operasional membikin margin untung menjadi sangat tipis.

Mengutip AFP pada Selasa, (28/04/2026), Hivernat mengungkapkan bahwa restorannya nan baru buka beberapa hari langsung terseret dalam pusaran protes penduduk New York. Bagi sebagian orang, nilai tersebut adalah bukti nyata bahwa makan di luar rumah telah menjadi kemewahan nan tidak terjangkau di salah satu ibu kota kuliner bumi tersebut, namun Hivernat bersikeras bahwa dia juga menjadi korban keadaan.

"Kami berada di bawah belas iba krisis keterjangkauan harga," kata Hivernat saat ditemui di restorannya nan terletak di lingkungan tren Brooklyn.

Pengusaha berumur 36 tahun itu menepis dugaan publik bahwa nilai selangit tersebut digunakan untuk memperkaya diri secara berlebihan di tengah himpitan ekonomi masyarakat. Hivernat menjelaskan bahwa penentuan nilai tersebut sudah sesuai dengan standar industri nan bertindak saat ini.

Ia memaparkan bahwa 25% dari pendapatan tersebut lenyap untuk bahan baku berkualitas. Sementara sisanya terserap untuk sewa tempat, tagihan energi, penghasilan karyawan, serta bayar utang modal pembukaan restoran sebesar separuh juta dolar.

"Mungkin orang mengira kami mengendarai Porsche di Hamptons pada akhir pekan dengan ayam seharga US$ 40 (Rp 690.120) milik kami, tapi kami sama seperti semua orang di sini," ujar Hivernat merujuk pada area resor mewah di New York.

"Orang-orang mempunyai buahpikiran nan sangat kuat tentang berapa nilai peralatan nan semestinya di industri restoran, tetapi mereka sama sekali tidak tahu berapa biaya nan sebenarnya," tutur Hivernat.

Sememtara itu, Direktur Eksekutif New York City Hospitality Alliance, Andrew Rigie, turut memalidasi kesulitan nan dihadapi para pengusaha kuliner kecil. Menurutnya, kenaikan nilai menu adalah akibat tak terelakkan dari beragam faktor, mulai dari premi asuransi, pemulihan pascapandemi nan lambat, hingga tarif impor nan diberlakukan Presiden Donald Trump.

"Banyak restoran apalagi tidak menghasilkan uang. Mereka hanya memperkuat hidup," kata Rigie.

Ia menambahkan bahwa tingginya biaya menjalankan upaya di New York memaksa pemilik restoran meningkatkan nilai demi kelangsungan usaha. Jadi, ini bukan untuk mencari kekayaan mendadak.

"Sangat mahal untuk menjalankan upaya mini di New York City sehingga restoran lokal kesayangan kami terpaksa mengenakan nilai tersebut hanya agar mereka bisa memperkuat hidup, apalagi bukan untuk berkembang," ujar Rigie.

Di sisi lain, Kepala Koki Gigi's Thomas Knodell, justru merasa lega lantaran kontroversi nilai ayam ini memicu obrolan publik nan diperlukan mengenai daya beli masyarakat. Ia memahami rasa frustrasi pelanggan, namun menegaskan bahwa restoran juga terjebak dalam realitas ekonomi nan sulit.

"Ini meledak lantaran ini adalah obrolan tentang biaya segalanya, rasa frustrasi menyeluruh nan dimiliki orang-orang," kata Knodell.

Koki berumur 35 tahun itu beranggapan bahwa pemerintah perlu melakukan perubahan kebijakan seperti pembatasan nilai pada grosir makanan. Ini untuk mengerem lonjakan biaya di tingkat restoran.

"Saya mengerti, ini mahal. Kami setuju dengan Anda, tapi inilah realita nan kita hadapi sekarang, sayangnya. Sangat bagus bahwa ini menjadi diskusi, karena, Anda tahu, itu sebenarnya nan bisa menghasilkan perubahan," pungkas Knodell.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News