Korban Tewas Gempa Venezuela Melonjak Jadi 920 Jiwa, Infrastruktur Runtuh

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Korban Tewas Gempa Venezuela Melonjak Jadi 920 Jiwa, Infrastruktur Runtuh Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Venezuela meroket hingga 920 orang. Komunitas internasional mendesak support kilat untuk mengatasi krisis kemanusiaan.(EPA)

JUMLAH korban tewas akibat gempa bumi luar biasa nan mengguncang Venezuela pada hari Rabu lampau dilaporkan telah melonjak menjadi sedikitnya 920 orang. Angka tersebut dikonfirmasi ketua parlemen Venezuela, Jorge Rodríguez.

Selain korban jiwa, lebih dari 3.300 orang mengalami luka-luka, dan banyak penduduk diyakini tetap terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Upaya pengamanan saat ini terus digenjot. Di negara bagian La Guaira nan terdampak parah, lebih dari 200 orang sukses dievakuasi. Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, telah menginstruksikan pihak militer untuk mengambil alih kendali di wilayah tersebut demi mempercepat pengedaran support kepada korban, menyusul adanya kritik publik mengenai lambatnya respons pemerintah.

Di tengah situasi darurat ini, jerit pilu family korban terus terdengar. Seorang ibu mengungkapkan kepada BBC bahwa kedua putrinya nan berumur 22 dan 23 tahun tetap hilang. "Saya hanya mau mereka kembali berbareng saya," ujarnya.

Harapan serupa disampaikan oleh penduduk lainnya berjulukan Marianella kepada BBC News Mundo. "Hati saya mengatakan kerabat laki-laki saya tetap hidup," tuturnya.

Krisis Kemanusiaan nan Kian Mendalam

Komite Antar-Lembaga Pengendali Bantuan Kemanusiaan (IASC) mengeluarkan pernyataan tegas nan meminta bumi internasional bergerak cepat.

"Komunitas internasional tidak boleh membiarkan keadaan darurat ini berkembang menjadi tragedi kemanusiaan nan lebih besar," tulis IASC dalam pernyataan resminya.

Lembaga nan menyatukan PBB dan mitra kemanusiaan non-PBB ini menambahkan bahwa musibah ini terjadi di tengah konteks kemanusiaan nan sudah sangat menantang.

"Bahkan sebelum gempa bumi terjadi, jutaan orang di seluruh Venezuela telah menghadapi kerawanan pangan, runtuhnya jasa kesehatan, akibat perlindungan, dan terbatasnya akses ke jasa dasar. Guncangan terbaru ini menjadi musibah besar bagi banyak organisasi nan memang sudah hidup dalam kerentanan," tambah IASC sembari mendesak penyaluran biaya support darurat.

Kondisi prasarana nan rentan memperparah akibat musibah ini. Sekretaris Jenderal Dewan Pengungsi Norwegia (NRC), Jan Egeland, menyatakan bahwa tim kemanusiaan di lapangan menyaksikan "kerusakan nan mengerikan." Menurutnya, Venezuela sangat tidak siap dan rentan lantaran kondisi prasarana nan bobrok akibat kurangnya investasi selama beberapa dekade. Banyak penduduk usia muda juga telah meninggalkan negara tersebut lantaran krisis ekonomi, menyisakan golongan masyarakat nan paling tidak berdaya.

"Jika ada pembangunan kembali, dan memang kudu ada pembangunan kembali, ini bisa menjadi kesempatan untuk memulai kembali hubungan antara pemerintah penjabat Venezuela, negara-negara tetangga, organisasi internasional, dan terutama AS. Harus ada investasi besar-besaran, tidak hanya untuk support kemanusiaan nan saat ini kekurangan dana, tetapi juga untuk rekonstruksi, air, listrik, limbah, jasa kesehatan, semua nan diperlukan untuk mempunyai masyarakat nan berfungsi," tegas Egeland.

Saat ini, support internasional mulai berdatangan. Negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Swiss, hingga Kolombia telah mengirimkan tim darurat beserta anjing pencari unik guna mempercepat pencarian korban selamat di bawah reruntuhan beton nan padat. (BBC/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia