Kontroversi VAR Piala Dunia 2026: FIFA Dikritik bak 'Diktator' Usai Tolak Pajang Bukti Offside

Sedang Trending 10 jam yang lalu
 FIFA Dikritik bak 'Diktator' Usai Tolak Pajang Bukti Offside Laga Swiss vs Qatar di Piala Dunia 2026 diwarnai ketegangan. FIFA banjir kritik atas dugaan penalti offside akibat minimnya transparansi teknologi semi-otomatis.(AFP)

FIFA kembali menghadapi situasi kontroversial pada Piala Dunia 2026 setelah para suporter tidak diberikan kesempatan untuk memandang penggunaan teknologi offside semi-otomatis dalam proses pemberian penalti bagi Swiss saat melawan Qatar.

Ketegangan bermulai ketika pemain Swiss, Remo Freuler, mengejar bola sundulan di dalam kotak penalti dan berbenturan keras dengan penjaga gawang Qatar, Mahmud Abunada. Wasit Hector Martinez asal Honduras langsung menunjuk titik putih. Eksekusi penalti tersebut sukses diselesaikan dengan baik oleh Breel Embolo pada menit ke-17.

Namun, tayangan ulang memperlihatkan adanya indikasi offside dalam proses sebelum pelanggaran terjadi. Mantan bek Manchester United nan sekarang menjadi komentator ITV, Gary Neville, melontarkan kritik tajam terhadap penggunaan VAR oleh FIFA. Ia menyamakan pendekatan badan pengatur sepak bola bumi tersebut dengan tindakan sebuah "diktator" lantaran tetap mempertahankan keputusan awal tanpa membagikan bukti definitif kepada penonton di stadion maupun penonton di rumah.

Neville mengungkapkan rasa frustrasinya atas apa nan dia anggap sebagai kurangnya transparansi.

"Kita semua nan duduk di sini berpikir demikian, dan semua orang di rumah juga bakal berpikir, gol tersebut offside. FIFA adalah penyelenggara, mereka mempunyai bukti dari keputusan otomatis itu, kenapa mereka tidak menunjukkannya kepada kita? Mereka melakukan ini pada turnamen lalu. Penggemar sudah telanjur tidak percaya. Ada tanda tanya besar dari [keputusan] itu lantaran itu offside sampai mereka membuktikan perihal sebaliknya kepada saya. Ini seperti diktator dalam pendapat bahwa mereka menyimpan bukti ini dan tidak menunjukkannya kepada penggemar. Ini konyol. Buktikan kepada kita bahwa itu offside. Di mana transparansinya?" ujar Neville.

Mantan striker Inggris, Ian Wright, turut menyuarakan kekesalan serupa mengenai sikap FIFA.

"Mereka melakukan apa nan mereka inginkan. Kita melihatnya sekarang. Ini memalukan," kata Wright.

Berdasarkan protokol FIFA, skematis offside semi-otomatis sebenarnya hanya bakal ditayangkan di layar kaca andaikan peninjauan VAR berujung pada pembatalan keputusan di lapangan. Karena keputusan penalti tetap disahkan, garis skematis tersebut tidak pernah diperlihatkan kepada lembaga penyiaran.

Di sisi lain, analis wasit ITV sekaligus wasit berlisensi FIFA, Christina Unkel, memberikan pembelaan. Ia menegaskan bahwa teknologi canggih di turnamen ini bisa membikin penilaian nan jauh lebih presisi dibandingkan mata manusia.

"Sistem ini tidak selalu mempunyai pemisah toleransi nan tertanam di dalamnya. Namun, teknologi nan diterapkan pada Piala Dunia ini berada di tingkat nan lebih tinggi, sehingga bakal menjadi lebih tajam dan jelas," jelas Unkel.

Meski sempat memicu perdebatan sengit, laga Grup B nan digelar di San Francisco ini akhirnya berhujung seri 1-1 setelah sundulan Boualem Khoukhi pada menit ke-94 sukses menyelamatkan poin pertama bagi Qatar. (TNT Sport/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia