Konflik di Timur Tengah mulai memengaruhi pola perjalanan visitor global. Vice President Business Development Golden Rama Tours and Travel, Kitty Chandra, mengatakan terjadi pergeseran minat wisatawan ke destinasi-destinasi, khususnya di Asia nan dinilai lebih dekat, mudah dijangkau, serta praktis dari sisi visa.
Menurut Kitty, negara seperti Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, dan China sekarang menjadi tujuan favorit baru.
“Kalau secara destinasi, pastinya beberapa itu switching ke destinasi Asia nan lebih dekat, lebih mudah soal visanya. Jepang, Hong Kong, Korea, China ini menjadi destinasi favorit saat ini,” ujar Kitty, saat ditemui kumparan di aktivitas konvensi pers Wanita dan Wisata nan digelar di Jakarta, Selasa (21/4).
Ia menambahkan, destinasi domestik juga ikut diuntungkan dari perubahan tren tersebut. Beberapa letak wisata premium di Indonesia, seperti Labuan Bajo, Sumba, dan wilayah lain mulai banyak dilirik visitor sebagai pengganti liburan.
“Tujuan domestik juga menjadi salah satu alternatif, lantaran banyak destinasi di dalam negeri nan sangat menarik,” kata Kitty.
Selain perubahan tujuan wisata, Kitty memandang perilaku traveler kini ikut berubah. Wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi populer, tetapi juga pengalaman baru nan lebih individual dan bernilai.
“Demand tidak hilang. Orang tetap mau bepergian, hanya lebih selektif dan segmented. Tugas kami adalah menghadirkan pengalaman nan tetap berbobot bagi traveler,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan tren dunia justru menjadi kesempatan baru bagi industri perjalanan untuk lebih imajinatif menghadirkan produk wisata nan relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
Destinasi Baru Pilihan Traveler
Selain bergeser ke Asia, perubahan tren perjalanan juga terlihat dari semakin tingginya minat visitor terhadap destinasi pengganti nan menawarkan pengalaman unik. Kitty mengatakan visitor sekarang tidak lagi terpaku pada tujuan klasik, seperti Eropa alias negara-negara Skandinavia, melainkan mulai mencari pengalaman serupa di letak nan lebih dekat dan efisien.
Salah satu contohnya adalah wisata berburu aurora. Jika sebelumnya aurora identik dengan Norwegia, Finlandia, alias Islandia, sekarang visitor mulai melirik China, Rusia, Australia, hingga Selandia Baru sebagai pilihan baru.
“Sebenarnya pergi memandang Aurora itu tidak selalu kudu ke negara-negara Skandinavia. Aurora bisa ke China juga, dan itu pengalaman nan berbeda,” kata Kitty.
Golden Rama juga mulai menghadirkan program perjalanan terkurasi untuk memenuhi kebutuhan visitor nan mau pengalaman spesifik. Paket wisata aurora ke China misalnya, dinilai lebih efisien dari sisi waktu perjalanan dibanding Eropa Utara.
Selain itu, destinasi seperti Murmansk di Rusia juga mulai diminati. Jika perjalanan ke Eropa Utara bisa menyantap waktu sekitar 15 hari, perjalanan ke pengganti lain dapat dirancang hanya 10 hingga 11 hari, sehingga lebih sesuai dengan waktu libur visitor Indonesia.
Tidak hanya itu, Kitty menyebut kejadian aurora juga dapat dilihat di area selatan, seperti Australia dan Selandia Baru. Di Melbourne misalnya, aurora muncul dengan warna berbeda, lebih dominan jingga dan merah.
“Jadi sekarang banyak pengganti baru nan sebelumnya tidak terpikirkan traveler,” ujarnya.
Tren serupa juga terjadi pada wisata pegunungan dan salju. Jika dulu visitor identik pergi ke Swiss untuk menikmati pemandangan Alpen alias bermain ski, sekarang banyak destinasi lain nan menawarkan pengalaman serupa dengan biaya lebih kompetitif.
Kitty mencontohkan sejumlah wilayah di China seperti Chongqing, Xinjiang, Lijiang, hingga Dali nan mulai terkenal di kalangan visitor premium Indonesia.
“Sekarang banyak nan bilang tidak perlu ke Swiss, datang saja ke Xinjiang alias Lijiang. Pemandangannya gunung es, pegunungan tinggi, dan pengalaman alamnya luar biasa,” katanya.
Menurut Kitty, perubahan preferensi ini didorong kombinasi beberapa faktor, mulai dari bentrok geopolitik, efisiensi waktu, nilai tiket, hingga kemauan visitor untuk mendapatkan pengalaman baru nan lebih eksklusif.
Tren tersebut juga berkembang lewat promosi dari mulut ke mulut. Wisatawan nan sudah mencoba destinasi baru kemudian membagikan pengalamannya, sehingga memicu minat pasar lain untuk ikut berkunjung.
“Traveler sekarang mencari sesuatu nan baru, unik, dan berbeda. Bukan hanya destinasi populer, tetapi pengalaman nan memorable,” pungkas Kitty.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·