Menurut Berton, berbeda dengan wilayah lain, operasi pemadaman di Papua Barat saat ini lebih menitikberatkan pada serangan udara, sementara operasi darat dihentikan sementara. Hal tersebut disebabkan kondisi geografis dan vegetasi Papua nan mempunyai tantangan tersendiri.
"Tantangan di sana adalah vegetasi nan tinggi dan rapat, nan menyebabkan air water bombing banyak tertahan di tajuk pohon. Selain itu, hanya satu helikopter nan dapat beraksi dalam waktu berbarengan lantaran menara Bandara Babo tidak meng-cover area operasi," tutur Berton.
Selain hambatan teknis dan alam, Berton menyebut kesiapan bahan bakar pesawat alias avtur menjadi halangan dalam kelancaran operasi. Pihaknya sekarang tengah menyusun beragam pendekatan agar pasokan avtur kembali tersedia untuk mendukung pemadaman.
Berton memastikan pemetaan ulang bakal kembali dilakukan untuk memantau pergerakan titik api.
"Besok bakal kembali dilakukan operasi dan pemetaan ulang. Sebagaimana kami sampaikan, langkah awal operasi adalah pemetaan alias pemantauan titik api dan titik panas," kata dia.
"Satgas perlu diaktifkan kembali lantaran potensi kemudahan terbakar tetap sangat tinggi, nan diprediksi bakal terjadi mulai hari ini sampai tanggal 5 September nanti, terutama di wilayah Teluk Bintuni dan Fakfak. Pesawat kita juga bakal tetap standby," jelas Berton.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·