Jakarta -
Harga emas dunia diperkirakan bakal terus melemah hingga pekan depan. Nilai logam mulia tersebut diramal bakal meneruskan tren pelemahan hingga kisaran US$ 4.237 per troy ons alias Rp 2.399.972 per gram (asumsi kurs Rp 17.618/dolar AS).
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pergerakan emas saat ini pada time frame daily menunjukkan tekanan nan semakin kuat. Kondisi tersebut tercermin dari terbentuknya pola Head & Shoulder alias kurva ke bawah setelah sebelumnya mengalami penguatan.
Bentuk pola ini dinilai menjadi salah satu sinyal bagi nilai emas untuk terus turun menuju level support terdekat di US$ 4.237 per troy ons. Formasi tersebut mengindikasikan meningkatnya tekanan jual setelah nilai mengalami penguatan sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama tekanan jual tetap mendominasi, kesempatan nilai emas untuk bergerak lebih rendah tetap terbuka pada pekan depan," jelas Geraldo dalam keterangan resminya, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, level nilai emas dunia alias XAUUSD sebesar US$ 4.237 per troy ons menjadi area support krusial nan perlu dicermati. Sebab andaikan nilai logam mulia itu bisa mempertahankan tekanan pelemahan saat ini, nilai emas berpotensi menguji level tersebut dalam perdagangan pekan depan.
Namun, dia menekankan reaksi pasar terhadap nilai ketika mendekati support bakal menjadi penentu arah selanjutnya. Di mana keahlian support menahan tekanan jual dapat membuka kesempatan terjadinya rebound, sementara penembusan nan kuat berpotensi memperbesar ruang pelemahan berikutnya.
"Selain level support, area resistance US$ 4.409 per troy ons menjadi pemisah krusial bagi skenario bearish tersebut," jelasnya.
Menurut Geraldo, selama nilai emas belum bisa mencatatkan penutupan di atas US$ 4.409 per troy ons alias Rp 2.497.398 per gram, tren bearish alias pelemahan tetap berpotensi menjadi arah dominan.
"Karena itu, pergerakan XAUUSD di antara area support dan resistance tersebut bakal menjadi perhatian utama pelaku pasar," tegas Geraldo.
Dari sisi fundamental, nilai emas pekan depan bakal menghadapi dua katalis nan bergerak berlawanan ialah krisis geopolitik di Timur Tengah nan tetap berpotensi menopang permintaan emas sebagai aset safe haven; dan meningkatnya ketidakpastian dunia nan biasanya bakal mendorong para penanammodal untuk mencari aset lebih aman, sehingga perkembangan bentrok dapat memberikan support terhadap nilai emas.
"Namun, eskalasi geopolitik juga membawa akibat lain melalui pasar energi. Lonjakan nilai minyak hingga menembus US$ 100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Kenaikan nilai daya dapat mendorong biaya produksi dan transportasi, sehingga berpotensi membikin inflasi memperkuat pada level tinggi," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian lantaran dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve. Jika tekanan inflasi semakin kuat, kesempatan suku kembang The Fed memperkuat tinggi dalam waktu lebih lama dapat meningkat. Ekspektasi tersebut berpotensi memberikan support terhadap dolar AS dan imbal hasil Treasury Amerika Serikat, nan pada akhirnya dapat membatasi daya tarik emas sebagai aset nan tidak memberikan imbal hasil.
Di luar itu, info Producer Price Index alias PPI Amerika Serikat juga menjadi salah satu perhatian pasar. Kenaikan PPI sebesar 0,4% secara bulanan menunjukkan adanya tekanan pada tingkat nilai produsen nan dapat menjadi pertimbangan dalam membaca arah inflasi ke depan. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi penanammodal terhadap kebijakan moneter dan pergerakan yield maupun dolar AS.
"Dengan demikian, perkembangan bentrok Timur Tengah, nilai minyak, info inflasi Amerika Serikat, dolar AS, dan Treasury yield bakal menjadi sejumlah aspek utama nan menentukan pergerakan XAUUSD pada pekan depan. Perubahan pada salah satu aspek tersebut dapat memicu peningkatan volatilitas nilai emas," pungkas Geraldo.
(igo/fdl)
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·