Waspadai Tanda Bahaya Keracunan Makanan pada Anak dan Gejalanya

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Waspadai Tanda Bahaya Keracunan Makanan pada Anak dan Gejalanya Sejumlah anak nan diduga menjadi korban keracunan MBG dirawat di bangsal anak RSUD Lubuk Basung, Agam, Sumatera Barat, Kamis (2/10/2025)( ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orang tua untuk tidak menunda membawa anak ke akomodasi kesehatan (faskes) saat mencurigai terjadinya keracunan makanan. IDAI menegaskan bahwa keterlambatan penanganan medis jauh lebih rawan dibandingkan jenis kuman penyebab keracunan itu sendiri.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), mengingatkan orang tua agar tidak membuang waktu dengan menunggu reaksi ramuan tradisional alias penawar racun buatan sendiri.

"Jangan menunda ke akomodasi kesehatan lantaran menunggu ramuan penawar racun bekerja. Keterlambatan datang ke akomodasi kesehatan lebih rawan daripada jenis kuman penyebab," kata Dr. Yogi dalam obrolan media di Jakarta, Jumat (11/9).

Gejala Umum Keracunan Makanan

Dr. Yogi memaparkan, gejala keracunan nan paling lazim ditemui meliputi mual, muntah, nyeri perut, serta buang air besar (BAB) cair alias berdarah. Namun, terdapat pula indikasi tidak unik nan wajib diwaspadai seperti demam, pusing, pandangan kabur, kelemahan personil gerak, dan kesemutan.

Sebagian besar anak nan mengalami keracunan bakal menunjukkan tanda dehidrasi, seperti mulut kering, kehausan terus-menerus, urine berwarna pekat, jarang berkemih, hingga lemas.

IDAI secara unik menyoroti tiga tanda ancaman utama nan tidak boleh diabaikan orangtua:

  • Diare Berdarah (E. coli Toksin Shiga): Diare berdarah dengan alias tanpa demam sangat rawan pada hari ke-5 hingga ke-10 lantaran dapat memicu anemia, penurunan trombosit, dan gangguan ginjal akut.
  • Botulisme pada Bayi: Ditandai dengan urutan unik berupa sembelit baru, isapan ASI melemah, perubahan bunyi tangisan, kelopak mata menurun (ptosis), hingga kelemahan otot tubuh dari atas ke bawah.
  • Infeksi Listeria dan Cyclospora: Listeria menakut-nakuti bayi baru lahir dan anak dengan daya tahan tubuh rendah, sementara Cyclospora memicu diare cair berkepanjangan hingga berpekan-pekan.

Empat Petunjuk Kapan Harus Mencurigai Keracunan

Dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut menjelaskan empat parameter utama bagi orangtua untuk mengenali indikasi keracunan makanan:

  • Penyakit Muncul Berkelompok: Gejala sakit dialami secara berbarengan oleh orang-orang nan mengonsumsi makanan, minuman, alias berada di tempat nan sama. Ini merupakan petunjuk tunggal paling kuat.
  • Paparan Makanan Risiko Tinggi: Konsumsi daging alias unggas kurang matang, susu tanpa pasteurisasi, makanan laut mentah, air sumur/banjir, susu formula bubuk, alias pemberian madu pada bayi di bawah 12 bulan.
  • Riwayat Perjalanan dan Pola Musiman: Riwayat berjalan ke wilayah dengan agunan sanitasi rendah alias keberadaan patogen musiman.
  • Selang Waktu Inkubasi nan Cocok: Jarak waktu antara jam makan dan munculnya indikasi sesuai dengan masa inkubasi patogen.

Kondisi Darurat nan Wajib Segera Dirujuk

IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke rumah sakit andaikan menemukan kondisi darurat seperti muntah terus-menerus, BAB berdarah, diare lebih dari tiga hari, demam tinggi, anak susah dibangunkan alias bingung, kejang, dehidrasi berat, serta kelemahan personil gerak.

Kewaspadaan ekstra dan rujukan langsung juga bertindak wajib bagi bayi berumur di bawah tiga bulan nan mengalami demam. (Ant/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia