Komunitas Yahudi Terang-terangan Hujat Israel, Pilih Bela Palestina

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan nan telah lama berjalan antara organisasi Yahudi progresif di Amerika Serikat dan pemerintah Israel kembali menjadi sorotan. Terutama ketika Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich berbareng sejumlah politisi sayap kanan Israel menghadiri Parade Hari Israel tahunan di Kota New York.

Saat Smotrich berasosiasi dalam pawai pro-Israel nan melintasi Fifth Avenue, dia disambut teriakan "memalukan" dan "penjahat perang" dari para demonstran nan menentang kehadirannya.

Parade Hari Israel di Fifth Avenue selama ini memang menuai kritik dari sebagian kalangan Yahudi nan mau menjaga jarak dari kebijakan pemerintah Israel. Tahun ini, kontroversi semakin menguat di tengah perang nan tetap berjalan di Gaza dan kehadiran sejumlah tokoh nan dianggap berkedudukan dalam kebijakan tersebut.

Meski mendapat penolakan, Smotrich tetap menegaskan bahwa Israel dan organisasi Yahudi dunia mempunyai hubungan nan tidak terpisahkan.

"Negara Israel adalah rumah bagi seluruh bangsa Yahudi. Keamanan orang Yahudi di seluruh bumi berjuntai pada kekuatan dan keamanan Negara Israel. Tidak ada tempat nan lebih baik untuk tinggal selain di Israel," ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Minggu (14/3/2026).

Sementara itu, Wali Kota New York Zohran Mamdani menepati janji kampanyenya dengan tidak menghadiri parade tersebut. Keputusan itu mendapat apresiasi dari sejumlah organisasi Yahudi Amerika nan mengkritik kuatnya pengaruh golongan sayap kanan dalam politik Israel.

"Parade Hari Israel, nan menampilkan politisi Israel nan tidak hanya mendukung genosida terhadap Palestina, tetapi juga merupakan bagian dari pemerintah nan melakukan genosida tersebut, bukanlah seremoni identitas alias kebanggaan Yahudi. @NYCMayor tahu ini. Kami berterima kasih dia tidak hadir," ujar Israelis for Peace dan Jews for Racial & Economic Justice (JFREJ).

Frustrasi terhadap Klaim atas Nama Komunitas Yahudi

Sejumlah aktivis Yahudi di Amerika Serikat dan Eropa mengaku semakin frustrasi terhadap politisi Israel nan menurut mereka menggunakan identitas Yahudi untuk membenarkan tindakan militer di Gaza maupun pendudukan Tepi Barat.

Kelompok-kelompok seperti Jewish Voice for Peace di AS dan Na'amod di Inggris menilai bahwa perlakuan terhadap penduduk Palestina bertentangan dengan nilai-nilai kerakyatan dan keadilan nan selama ini diklaim Israel.

Emily Hilton, salah satu pendiri Na'amod, mengatakan pandangannya terhadap Israel mulai berubah setelah serangan Israel ke Gaza pada 2014, khususnya setelah kematian empat anak Palestina nan tewas saat bermain sepak bola di pantai.

"Saya mulai mempertanyakan penerimaan pemikiran Zionis sejak di universitas," kata Hilton kepada Al Jazeera.

"Saya pernah berjumpa Zionis liberal nan mungkin mempertanyakan politik Israel, tetapi baru setelah saya kuliah di University College London saya mulai berjumpa dengan orang Yahudi dan Palestina nan kritis terhadap Israel dan maknanya," tambahnya.

Hilton kemudian berasosiasi dengan golongan aktivis Yahudi di Inggris nan mengadakan angan duka cita tradisional Yahudi untuk penduduk Palestina nan dibunuh oleh Israel selama Pawai Akbar Kepulangan di perbatasan Gaza pada tahun 2018. Kemudian, dia berasosiasi dalam aktivitas peringatan setelah serangan nan dipimpin Hamas pada 7 Oktober.

Perang Israel selanjutnya di Gaza telah menewaskan lebih dari 75.000 penduduk Palestina di Gaza dan mengubah persepsi di antara beberapa organisasi Yahudi di seluruh bumi tentang hubungan mereka dengan negara tersebut.

"Semakin banyak orang menyadari bahwa kita benar, Israel telah kalah dalam argumen moral," kata Hilton.

"Klaim apa pun nan pernah dimilikinya telah hilang. Sekarang, satu-satunya klaim nan tersisa adalah bahwa mereka bertindak atas nama organisasi Yahudi arus utama, dan apalagi itu pun terlihat semakin tidak pasti," tambahnya.

Ancaman politik utama bagi pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, termasuk mantan perdana menteri sayap kanan Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Yair Lapid, hanya memperdebatkan sejauh mana apartheid dan genosida kudu diberlakukan, kata Hilton, dan tidak menawarkan masa depan nan lebih baik bagi penduduk Palestina.

"Klaim bahwa mereka bertindak atas nama saya, terus terang, sangat keterlaluan. Tidak masalah apakah itu apartheid nan lebih lembut nan dianjurkan oleh Lapid dan Bennett alias kekerasan dan kehancuran nan dianjurkan oleh pemerintah saat ini, masalahnya adalah sistemnya," tambah Hilton.

Jajak pendapat dari seluruh AS dan Eropa menunjukkan pandangan nan berbeda di antara organisasi Yahudi terhadap Israel. Sementara beberapa orang di AS dan Inggris melaporkan merasakan ikatan emosional nan kuat dengan Israel setelah kecaman dunia nan meluas terhadapnya atas perang di Gaza, banyak juga nan beralih dari negara nan mereka rasa melakukan genosida atas nama mereka.

"Sudah terlalu lama, lembaga-lembaga Yahudi Amerika mendukung tindakan pemerintah Israel dan mengulangi pembenarannya bahwa apa nan mereka lakukan adalah demi kepentingan orang-orang Yahudi di mana pun," kata Sonya Meyerson-Knox, Direktur Komunikasi Jewish Voice for Peace, kepada Al Jazeera.

"Dengan melakukan itu, mereka tidak hanya merekayasa support untuk pendudukan Israel, apartheid, dan genosida terhadap Palestina, tetapi mereka juga membungkam dan mengucilkan orang-orang Yahudi nan menentang tindakan-tindakan ini, alias mencoba meminta pertanggungjawaban negara Israel atas kejahatan perangnya," ujarnya.

Mayoritas lembaga Yahudi Amerika terus mendukung Israel, kata Meyerson-Knox, meskipun terjadi "perubahan besar" di antara organisasi Yahudi Amerika secara keseluruhan.

(wur/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News