UIC College mendorong mahasiswa untuk membangun portofolio dan pengalaman industri sejak masa studi melalui beragam proyek nyata nan terintegrasi dalam proses pembelajaran.(Dok. UIC College)
BATAS antara ruang kelas dan bumi kerja di industri kreatif semakin tipis. Jika dulu mahasiswa umumnya baru mulai membangun pekerjaan setelah lulus, sekarang tidak sedikit nan telah menghasilkan karya, bekerja-sama dengan pelaku industri, hingga terlibat dalam proyek ahli sebelum menyelesaikan pendidikan.
Tren tersebut menjadi salah satu pendekatan nan diterapkan UIC College dalam pendidikan musik. Kampus ini mendorong mahasiswa untuk membangun portofolio dan pengalaman industri sejak masa studi melalui beragam proyek nyata nan terintegrasi dalam proses pembelajaran.
Program Leader Music UIC College, Irfas, mengatakan pendidikan musik saat ini tidak lagi cukup berfokus pada penguasaan teori. Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali pengalaman berkarya nan relevan dengan kebutuhan industri agar mempunyai kesiapan ahli sejak dini.
"Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka kudu membangun portofolio, menghasilkan karya, berkolaborasi, dan memahami standar industri sejak awal. Karena itu kami mendorong siswa untuk mulai bekerja melalui proyek-proyek nyata selama masa studi mereka," ujarnya.
Pendekatan tersebut merupakan bagian dari kurikulum Pearson BTEC asal Inggris nan diterapkan di UIC College. Kurikulum ini menempatkan pengalaman praktik industri sebagai bagian inti dari proses pembelajaran. Melalui program 2+1 UIC College, mahasiswa menempuh dua tahun pertama studi di Indonesia sebelum melanjutkan tahun terakhir di universitas mitra di Inggris.
Sebagai bagian dari USG Education Group, UIC College juga secara konsisten menghadirkan beragam proyek dan resital sebagai corak penerapan applied learning. Melalui pendekatan project-based learning dan real-world learning, mahasiswa didorong menghasilkan karya nan relevan dengan kebutuhan industri sekaligus membangun portofolio ahli sejak masa studi.
Salah satu hasil dari pendekatan tersebut terlihat dari perjalanan Sere Pasaribu, mahasiswi Program Musik UIC College nan telah merilis lima lagu orisinal dan terlibat sebagai pengisi vokal soundtrack movie Malam 3 Yasinan apalagi sebelum menyelesaikan pendidikan.
Perjalanan imajinatif tersebut dirangkum Sere dalam Senior Vocal Recital berjudul To Love, To Lose, To Learn nan digelar di Balai Resital Kertanegara, Jakarta, pada Jumat (12/6). Melalui lima babak berjudul Naive, Heartbreak, Return, Reblooming, dan Bittersweet, penonton diajak menyusuri perjalanan emosional tentang cinta, kehilangan, hingga proses menemukan makna dan pertumbuhan dari setiap pengalaman hidup.
Bagi Sere, resital tersebut bukan sekadar pagelaran musik. Panggung itu menjadi ruang untuk merefleksikan pengalaman nan membentuk dirinya sebagai perseorangan sekaligus musisi muda.
"Setiap orang pernah mencintai sesuatu, kehilangan sesuatu, lampau belajar dari pengalaman itu. Pengalaman-pengalaman itulah nan saya terjemahkan ke dalam musik dan karya nan saya tulis sendiri. Bagi saya, musik adalah langkah untuk memahami dan membagikan pengalaman hidup kepada orang lain. Selama kuliah, saya mendapat banyak kesempatan untuk mengembangkan karya tersebut sekaligus belajar menulis, bereksperimen, dan menemukan identitas artistik saya," ujar Sere.
Selain tampil dalam resital, Sere juga aktif menghasilkan karya orisinal nan tersedia di beragam platform streaming digital. Lagu-lagu seperti Like I Always Do, Stupid For Loving U, 18th, Buatku Berarti, dan Mungkin Tak Harus Terjawab merupakan karya nan dia tulis sendiri dan telah dirilis melalui UIC College of Music dan Nayanara Svara.
Tak hanya itu, Sere juga terlibat sebagai pengisi vokal soundtrack movie Malam 3 Yasinan. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk merasakan langsung proses produksi musik dalam lingkungan profesional.
"Terlibat dalam soundtrack movie membikin saya memandang bumi musik dari perspektif nan berbeda. Saya merasakan langsung gimana sebuah karya lahir dalam lingkungan ahli dengan ekspektasi dan tanggung jawab nan nyata," ungkapnya.
Director of Marketing and Student Experience USG Education, Niluh Komang Aimee Sukesna, mengatakan perjalanan Sere mencerminkan perubahan nan tengah terjadi dalam pendidikan tinggi kreatif. Menurutnya, semakin banyak mahasiswa nan mulai membangun pekerjaan ahli mereka selama tetap menempuh pendidikan.
"Dulu mahasiswa belajar terlebih dulu lampau bekerja setelah lulus. Hari ini kami memandang semakin banyak mahasiswa nan mulai membangun pekerjaan ahli mereka selama masa studi. Ketika pendidikan dirancang untuk mendekatkan mahasiswa pada bumi nyata, hasilnya bukan hanya gelar, tetapi juga karya, pengalaman, dan kesiapan menghadapi industri," ujarnya.
Aimee menambahkan, pendekatan tersebut sejalan dengan semangat The World is Here nan diusung UIC College. Melalui pengalaman belajar nan terhubung dengan praktik industri, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh kompetensi akademik, tetapi juga kesiapan untuk beradaptasi dan berkembang di bumi ahli nan semakin kompetitif.
Dengan semakin tingginya tuntutan industri imajinatif terhadap pengalaman dan portofolio kerja, keterlibatan mahasiswa dalam proyek-proyek nyata selama masa studi dinilai menjadi salah satu langkah untuk mempersempit kesenjangan antara bumi pendidikan dan kebutuhan industri. Bagi UIC College, proses membangun pekerjaan tidak lagi menunggu wisuda, melainkan dimulai sejak mahasiswa berada di bangku kuliah. (E-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·