Kompres Es Ketiak Hanya Bantu Redakan Cemas Sementara, Bukan Terapi Utama

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Kompres Es Ketiak Hanya Bantu Redakan Cemas Sementara, Bukan Terapi Utama Ilustrasi(Magnific.com)

MEDIA sosial diramaikan membahas metode mendinginkan ketek dengan es sebagai langkah untuk meredakan rasa resah dan overthinking. 

Menanggapi tren tersebut, psikiater sekaligus pengajar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Riati Sri Hartini, menjelaskan bahwa sensasi dingin memang dapat memberikan pengaruh menenangkan, tetapi tidak dapat dijadikan terapi utama untuk mengatasi gangguan kecemasan.

Menurutnya, kompres dingin dapat membantu menurunkan respons tubuh terhadap stres dengan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis nan berkedudukan dalam proses relaksasi. Selain itu, sensasi dingin juga dapat mengalihkan perhatian dari pikiran nan berlebihan melalui teknik grounding.

“Efeknya hanya berkarakter sementara, ialah membantu menenangkan tubuh, bukan mengatasi penyebab kecemasan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah nan cukup bahwa kompres es di ketek merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kekhawatiran alias overthinking,” kata Riati dalam keterangannya, Minggu (2/8).

Riati mengingatkan, masyarakat perlu berhati-hati andaikan menjadikan terapi dingin sebagai solusi utama. Menurutnya, kekhawatiran nan berjalan terus-menerus hingga mengganggu kualitas tidur, pekerjaan, maupun aktivitas sehari-hari memerlukan pertimbangan dan penanganan oleh tenaga kesehatan.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan es secara langsung dalam waktu nan terlalu lama dapat menimbulkan iritasi hingga cedera kulit (cold burn). Oleh lantaran itu, kompres dingin hanya dapat dimanfaatkan sebagai pertolongan awal untuk membantu menenangkan diri, bukan sebagai pengobatan utama.

“Efektivitas terapi dingin dalam mengatasi kekhawatiran tetap terbatas. Sebaliknya, beragam teknik nan telah didukung bukti ilmiah, seperti latihan pernapasan, mindfulness, relaksasi, dan grounding, terbukti bisa membantu menurunkan indikasi kecemasan,” ujar dia.

Bahkan, dia melanjutkan, cognitive behavioral therapy (CBT) menjadi salah satu pendekatan psikoterapi nan paling efektif dalam menangani gangguan kecemasan.

Untuk menjaga kesehatan mental sehari-hari, Riati menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berolahraga, tidur nan cukup, mengurangi konsumsi kafein, serta membatasi paparan info nan dapat memicu kecemasan. Kebiasaan tersebut sebaiknya dipadukan dengan latihan pernapasan, mindfulness, alias teknik relaksasi agar pengelolaan stres menjadi lebih optimal.

“Apabila kekhawatiran menetap selama beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, alias disertai serangan panik, segera berkonsultasi dengan psikolog alias psikiater. Penanganan nan tepat sejak awal bakal memberikan hasil nan lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan andaikan diperlukan,” pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia