Komisi V DPR Soroti Penumpang Desak-desakan di KRL: Bisa Gak Tambah Gerbong?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Pimpinan Komisi V DPR RI, Lasarus saat rapat kerja dengan semua mitra kerja di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Komisi V DPR menggelar rapat kerja membahas kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur, Kamis (21/5). Rapat itu dilakukan berbareng Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, KAI, Basarnas, dan lembaga lainnya nan terkait.

Dalam rapat itu, Ketua Komisi V DPR Lasarus menyoroti kondisi padatnya pengguna KRL nan menimbulkan desak-desakan di jam sibuk. Ia pun mengusulkan penambahan gerbong hingga pembangunan double-double track (DDT) untuk mengatasi perihal tersebut.

“Tadi kita sudah lihat gimana mereka berdesak-desakan, bisa nggak gerbongnya kita tambah? Kalau dari double-double track menuju ke double track berbahaya, bisa nggak kita bangun double-double track sampai itu tidak lagi berbahaya?” ujar Lasarus di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Sejumlah penumpang antre menuju peron kereta rel listrik (KRL) rute green line di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Ia menegaskan, kepadatan penumpang KRL tidak bisa dibiarkan terus terjadi tanpa solusi sistemik, mengingat Jakarta sebagai salah satu kota terpadat di bumi terus mengalami peningkatan mobilitas warga.

Lasarus juga mendorong adanya pertimbangan terhadap sistem operasi dan SOP (Standard of Procedure) perjalanan kereta agar keselamatan tetap terjaga di tengah tingginya intensitas perjalanan.

“Kalau sistem operasional SOP-nya tetap bisa menimbulkan bahaya, bisa nggak SOP-nya ini diperbaiki dan seterusnya. Jakarta ini kota nan sangat padat Pak, termasuk salah satu kota terpadat di dunia, dan pengguna kereta api dari hari ke hari bertambah,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya mencari solusi berbareng antara pemerintah, operator, dan regulator tanpa saling menyalahkan pihak tertentu.

“Kami bukan mencari siapa nan salah tapi mencari titik lemah ada di mana dari sistem nan kita punya hari ini. Soal siapa nan salah kita serahkan kepada polisi ya. Kami tidak masuk ke ranah itu,” tutur Lasarus.

Lasarus juga mengusulkan opsi penguatan prasarana seperti underpass, flyover, hingga penambahan jalur dobel untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta di tengah meningkatnya jumlah penumpang.

“Kalau sudah bicara lintas sebidang agar ini tidak rawan tentu kudu kita tata Pak. Kita bikin underpass kah, kita bikin flyover kah, kita pasang pintu palang dengan penjaga kah dan seterusnya. Prinsip itu aman,” ungkap Lasarus.

“Kami minta dulu Pak Menteri Perhubungan (Dudy Purwagandhi) jika biaya itu sudah turun utamakan dulu itu dibangun di sekitar nan padat Pak, sekitar Jabodetabek terutama, lantaran ini lintasan keretanya sangat padat,” tambahnya.

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai berbenturan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Lasarus juga menyoroti sistem alias keahlian teknologi sehingga kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur tersebut terjadi.

“Kenapa kereta api Argo Bromo Anggrek itu kok tidak bisa dikendalikan sampai menabrak kereta nan sedang berhenti? Apakah sistem nan kita punya hari ini alias keahlian teknologi nan kita miliki tidak bisa mengendalikan situasi seperti ini?” ujar Lasarus.

“Di diagram perjalanan kereta itu kan pasti ketahuan, kereta ini berada di mana, kemudian kira-kira posisinya di mana ketika ini terjadi. Kemudian tenggang waktu antar kereta. Kalau tenggang waktunya kita bikin lima menit, enam menit, tujuh menit, sepuluh menit, delapan menit, berapa menit pun lah nan diatur pasti ada hitungan teknisnya kan ini?” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan