Pentahelix Dialogue bertema ‘Mainstreaming Renewable Energy’ di Jakarta, Kamis (30/7/2026).(MI/HO)
TRANSISI menuju energi terbarukan di sektor perdesaan dan pesisir memerlukan sinergi nan kuat antar pemangku kepentingan. Menyadari perihal tersebut, PT Sustainability & Resilience (su-re.co) berbareng startup teknologi akuakultur, Crustea, menyelenggarakan Pentahelix Dialogue bertema ‘Mainstreaming Renewable Energy’ di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat, media, hingga lembaga pembiayaan. Tujuannya adalah merumuskan ekosistem nan mendukung pengembangan daya terbarukan, khususnya biogas dan akuakultur berbasis daya surya di wilayah perdesaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kemitraan strategis P4G Crustea–su-re.co berjudul "Aquaculture for Climate Resilience". Inisiatif ini konsentrasi pada pemanfaatan daya bersih untuk meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim.
Efisiensi Biaya Operasional melalui Panel Surya
Salah satu terobosan utama dalam program ini adalah penggunaan panel surya untuk menggerakkan sistem aerasi tambak. Berdasarkan uji coba di letak percontohan Gianyar, Bali, teknologi ini terbukti bisa menekan ketergantungan pada listrik PLN secara signifikan.
Researcher PT Sustainability & Resilience, Naafi Lathifah, mengungkapkan bahwa sistem nan dikembangkan menggunakan konfigurasi hybrid. "Hasil sementara menunjukkan penggunaan solar panel bisa menghemat konsumsi listrik PLN sekitar 42 hingga 50 persen," jelas Naafi.
Data Implementasi Teknologi Panel Surya:
| Lokasi Pilot Project | Gianyar (Bali) & Nusa Tenggara Barat |
| Durasi Suplai Energi | ± 10 Jam per hari (untuk aerator) |
| Efisiensi Listrik PLN | 42% - 50% |
| Target Ekspansi | 10 Lokasi Budidaya |
| Sistem Energi | Hybrid (Panel Surya, Baterai, & PLN) |
Tantangan Modernisasi Tambak Tradisional
Meskipun teknologi tersedia, tantangan besar tetap membayangi sektor akuakultur nasional. Katimja Kawasan Budidaya Air Payau KKP, Abdul Wakhid, memaparkan bahwa kebanyakan tambak di Indonesia tetap dikelola secara tradisional.
Profil Pengelolaan Tambak Nasional (Total 300 Ribu Hektar):
- Intensif: 3%
- Semi Intensif: 15%
- Tradisional: 82%
Sekjen Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Romi Novriadi, menambahkan bahwa selain akses energi, masalah pakan menjadi beban biaya terbesar bagi petambak. Diperlukan penemuan bahan baku lokal pengganti untuk menjaga keberlanjutan upaya di tengah kenaikan nilai global.
Dukungan Kebijakan dan Pendanaan
Ketua Umum AP5I, Saut P. Hutagalung, menekankan bahwa penerapan standar berkepanjangan sekarang menjadi syarat absolut di pasar ekspor global. Hal ini memberikan nilai tambah bagi produk perikanan Indonesia.
Dari sisi izin dan pendanaan, Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendesa PDTT, Samsul Widodo, menyarankan kerjasama pembiayaan. Selain menggunakan Dana Desa, dia mendorong pemanfaatan biaya Corporate Social Responsibility (CSR) dari sektor swasta untuk mempercepat mengambil teknologi ini.
Ke depan, program Aquaculture for Climate Resilience bakal menyasar 250 petambak di Lombok dan Sumbawa melalui pendekatan Climate Resilience Farmers Field School (CRFSS). Melalui integrasi Eco-Aerator berkekuatan surya dan sistem pemantauan berbasis IoT, inisiatif ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing petambak lokal sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·