KNKT Ungkap Info yang Diterima Masinis KA Argo Bromo: Rem Sedikit & Semboyan 35

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Menhub Dudy Purwagandhi (tengah) berbareng Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono (kiri) dan Wamen PU Diana Kusumastuti (kanan) memaparkan materi saat rapat kerja dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

KNKT mengungkap petunjuk nan diterima masinis KA Argo Bromo Anggrek pada saat melaju menuju Stasiun Bekasi Timur.

Pada saat itu, di dekat Stasiun Bekasi Timur, ada KRL arah Jakarta nan menabrak taksi Green SM di perlintasan nan membikin orang berkerumun. Hal itu kemudian membikin satu KRL arah Cikarang terhenti di Stasiun Bekasi Timur. KRL arah Cikarang itu kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo.

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyebut Pusat Pengendali (pusdal) hanya meminta masinis KA Argo Bromo Anggrek untuk mengurangi kecepatan dan memperbanyak Semboyan 35 setelah menerima info adanya tabrakan KRL dengan taksi listrik. Semboyan 35 adalah semboyan bunyi berupa bunyi suling (klakson) lokomotif panjang nan dibunyikan oleh masinis.

Soerjanto menjelaskan, masinis sebenarnya sudah melakukan pengereman setelah menerima info adanya kejadian di depan jalur. Namun, pusdal saat itu belum mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan lantaran info nan diterima hanya melalui komunikasi suara.

“Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima buletin bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman. Cuma lantaran situasinya kan di Pusdal itu tidak tahu nan sebenarnya lantaran komunikasinya kan lewat bunyi saja, lewat voice,” kata Soerjanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5).

Ia mengatakan, pengendali operasi di Pusdal tidak memperoleh gambaran visual mengenai kondisi di letak kejadian. Karena itu, petunjuk nan diberikan kepada masinis hanya berupa pengurangan kecepatan dan membunyikan semboyan 35.

“Jadi kondisi lapangannya seperti apa dia enggak tahu, hanya memberi tahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35,” ujarnya.

Petugas menggunakan perangkat berat mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai berbenturan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Menurut Soerjanto, masinis kemudian menjalankan petunjuk nan diberikan oleh pengendali operasi.

“Nah itu aja nan disampaikan, sehingga masinis sudah melakukan merespons apa nan disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai,” katanya.

KNKT juga menjelaskan argumen kenapa Pusdal tidak langsung menginstruksikan penghentian penuh terhadap laju kereta.

“Ya lantaran memang di Pusdal kan temperan seperti apa, mereka belum tahu kondisi lapangannya seperti apa, maka dia positive thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan banyak-banyak memberikan semboyan 35 alias memberi klakson,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan