KKP & DANA Cegah Sampah Bocor ke Laut, Pakai Cara Ini

Sedang Trending 6 jam yang lalu

Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan DANA Indonesia bekerja-sama mengupayakan agar jumlah sampah khususnya nan berbahan plastik tidak bocor ke laut. Selain mengedepankan teknologi, sinergi untuk mengkampanyekan ancaman serta pentingnya memilah sampah pun terus digencarkan ke masyarakat untuk mengurai persoalan ini sejak dari hulu.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara mengungkap kekuasaan populasi sampah nan mencemari laut berasal dari daratan, terutama sampah rumah tangga. Sedangkan penangangan sampah nan sudah berada di laut itu lebih susah dilakukan dan memerlukan biaya lebih besar.

Lebih dari itu, keberadaan sampah di laut menakut-nakuti keberlanjutan ekosistem di dalamnya, baik nan tetap utuh maupun nan sudah terurai menjadi mikroplastik. Untuk itu, menurutnya, perlu tanggung jawab semua pihak sehingga sampah-sampah nan berasal dari daratan tidak berhujung di laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihaknya sejauh ini sudah menggandeng tiga pemerintah daerah, ialah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Bali untuk memperkuat pengelolaan sampah di darat agar tak masuk ke laut.

"Maka strategi kita dalam mengelola sampah agar tidak masuk ke laut itu dilakukan dengan pencegahan. Kita kudu bisa mengelola sampah di wilayah masing-masing. Dan sampah ini persoalan serius nan kudu ditangani secara bersama," ujar Koswara di Pantai Petitenget, Badung, Bali, Sabtu (13/6/2026).

Koswara juga menerangkan, secara nasional penanganan sampah bocor ke laut, KKP telah menginisiasi program Laut Sehat Bebas Sampah (Sebasah). Program ini mengusung dua strategi, ialah pencegahan sampah masuk ke laut melalui empat titik pantau, meliputi sungai utama nan bermuara ke laut, desa pesisir termasuk Kampung Nelayan Merah Putih, pulau-pulau mini berpenduduk, pelabuhan dan aktivitas di laut, serta strategi penanganan sampah nan sudah ada
di laut.

Inisiatif ini merupakan bagian dari rangkaian pra-acara Ocean Impact Summit (OIS) 2026 sekaligus memperingati World Ocean Day dan Coral Triangle Day nan jatuh di bulan Juni.

Kegiatan ini juga mendukung Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) nan menjadikan penanganan sampah laut dan pengelolaan limbah pesisir sebagai salah satu agenda prioritas Indonesia. Melibatkan organisasi lokal, universitas, masyarakat setempat, dan tenaga kerja DANA, aktivitas ini sukses mengumpulkan sebanyak 317,3 kilogram sampah.

"Kami percaya teknologi mempunyai peran krusial dalam mendukung style hidup nan lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Namun, setiap penemuan nan dilakukan kudu melangkah beriringan dengan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga lingkungan dan masa depan bersama, sehingga kita dapat bersama-sama mewujudkan sasaran Blue Economy di Tanah Air," ujar Director of Communications DANA Indonesia Olavina Harahap.

Selain beach clean-up, DANA juga menggalakkan kembali program edukasi Ocean Buddy nan mana pengguna dapat mengambil peran secara langsung dalam konservasi laut. Ocean Buddy merupakan game interaktif di aplikasi DANA nan mendukung perlindungan hiu paus di Indonesia. Sejak diluncurkan pada Oktober tahun lalu, lebih dari 13 juta pengguna Dana telah menggunakan Ocean Buddy.

Ocean Impact Summit (OIS) sendiri merupakan forum nan mempertemukan pemimpin dan pelaku industri dunia untuk mendorong potensi Blue Economy melalui kolaborasi, inovasi, dan solusi berkelanjutan. Forum ini bermaksud memperkuat kebijakan, investasi, dan kemitraan lintas sektor guna mendukung sasaran suasana dunia dan UN Decade of Ocean Science.

Di samping itu, DANA juga mendukung keberlanjutan nan tercermin dalam setiap transaksi di aplikasi. Merujuk pada Sustainability Report 2024, Dana mencatat bahwa setiap transaksi di aplikasi hanya menghasilkan 0,14 gram CO₂e, alias setara sekitar 3 persen emisi dibandingkan satu email biasa nan rata-rata menghasilkan 4 gram CO₂e.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance