Ilustrasi(Dok Magnific)
SEORANG wanita asal California, Amerika Serikat, Maria Kang, membagikan kisahnya setelah didiagnosis menderita kanker usus besar (kolorektal) stadium 4 meski selama bertahun-tahun dikenal menjalani style hidup sehat.
Kang merupakan seorang pegiat kebugaran nan terkenal sejak 2013. Namanya dikenal luas setelah foto dirinya berbareng tiga anak dengan tubuh atletis menjadi viral di media sosial. Kala itu, dia juga mendirikan beragam organisasi kebugaran nan mendorong para ibu untuk menerapkan pola hidup sehat.
Namun, kehidupan wanita berumur 46 tahun itu berubah drastis ketika pada November 2023 master menyatakan dirinya menderita kanker usus besar stadium lanjut.
"Saya betul-betul terkejut lantaran saya merasa menjadi orang paling sehat nan saya kenal," kata Kang dikutip dari laman New York Post.
Ia mengaku sempat mencari penyebab penyakit tersebut. Namun, dia merasa tidak mempunyai aspek akibat nan jelas lantaran selalu menjaga pola makan, mengonsumsi air nan telah disaring, serta rutin berolahraga.
Sebelum didiagnosis kanker, Kang rupanya telah mengalami gangguan pencernaan sejak remaja. Ia sering mengalami sembelit kronis dan perut kembung, terutama ketika berada dalam kondisi stres.
Meski sudah mencoba beragam cara, seperti mengonsumsi suplemen serat hingga obat pencahar, keluhan tersebut tidak kunjung hilang.
Sayangnya, selama bertahun-tahun dia menganggap kondisi itu sebagai sesuatu nan normal.
"Saya menyadari bahwa kita sering menormalkan suatu masalah dan menganggapnya baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak. Sistem pencernaan semestinya bekerja semudah kita bernapas. Namun, itu tidak terjadi pada saya," ujarnya.
Menurut Kang, pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa indikasi nan berjalan terus-menerus tidak boleh diabaikan lantaran bisa menjadi tanda adanya penyakit serius.
Sempat Jalani Pengobatan Holistik hingga Kemoterapi
Setelah kolonoskopi dan biopsi menemukan adanya tumor, Kang sempat memilih menjalani pengobatan holistik selama sekitar 12 minggu. Namun, hasilnya tidak sesuai angan lantaran tumor tidak mengecil, apalagi diduga sedikit membesar.
Pada 2024, dia akhirnya menjalani terapi FOLFOX, ialah kombinasi obat kemoterapi nan umum digunakan untuk menangani beberapa jenis kanker saluran pencernaan.
Usai menjalani satu kali kemoterapi, Kang sempat dirawat di unit darurat gawat akibat komplikasi pada stoma kolostomi. Pemeriksaan pencitraan kemudian menunjukkan ukuran tumornya menyusut secara signifikan.
Melihat perkembangan tersebut, Kang memutuskan menghentikan kemoterapi dan melanjutkan penanganan melalui operasi.
Dokter kemudian mengangkat tumor beserta sekitar 30 sentimeter usus besarnya. Selain itu, beberapa organ reproduksi serta usus buntu juga ikut diangkat. Selama masa pemulihan, dia sempat menggunakan kolostomi dan kemudian ileostomi.
Kini, hasil pemeriksaan MRI menunjukkan tidak ditemukan massa nan mencurigakan. Meski demikian, Kang tetap menjalani tes darah dan pemindaian setiap enam bulan lantaran master terus memantau kondisinya. Hingga saat ini, dia juga belum dinyatakan berstatus No Evidence of Disease (NED) alias tidak ditemukan lagi bukti adanya kanker.
Kanker Kolorektal Meningkat pada Kelompok Usia Muda
Di tengah kisah Kang, American Cancer Society memperkirakan sekitar 158.850 penduduk Amerika Serikat bakal didiagnosis menderita kanker kolorektal sepanjang 2026. Sekitar 55.230 orang diperkirakan meninggal akibat penyakit tersebut.
Meski nomor kejadian kanker kolorektal secara keseluruhan menurun pada golongan usia lanjut berkah meningkatnya skrining, kasus pada orang berumur di bawah 50 tahun justru terus meningkat. Selama periode 2013 hingga 2022, nomor kejadiannya naik rata-rata 2,9% per tahun.
Karena itu, American Cancer Society dan U.S. Preventive Services Task Force merekomendasikan skrining rutin kanker kolorektal dimulai sejak usia 45 tahun bagi masyarakat dengan akibat rata-rata. Sementara mereka nan mempunyai aspek akibat tertentu disarankan memulai pemeriksaan lebih dini.
Penampilan Sehat tidak Selalu Menunjukkan Kondisi Tubuh
Setelah melewati perjalanan panjang melawan kanker, Kang mengaku mempunyai pandangan baru mengenai makna kesehatan.
"Ini menjadi pelajaran nan sangat besar ketika saya menyadari, 'Saya terlihat sehat, tetapi rupanya saya tidak betul-betul sehat.' Seseorang dengan berat badan normal pun bisa saja menderita kanker alias penyakit autoimun," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi kesehatan seseorang tidak dapat dinilai hanya dari penampilan fisik.
"Kita tidak pernah betul-betul tahu apa nan terjadi di dalam tubuh seseorang. Kita terlalu sering berupaya terlihat sehat, padahal nan lebih krusial adalah betul-betul sehat," katanya.
Pengalaman tersebut juga mengubah style hidupnya. Jika sebelumnya dia berlatih lima hingga enam kali setiap minggu, sekarang dia lebih memilih mendengarkan kebutuhan tubuh. Jalan kaki menjadi olahraga favoritnya, disusul menari dan latihan kekuatan nan dilakukan tanpa paksaan.
Pola makannya pun berubah. Kang sekarang tidak lagi membagi makanan ke dalam kategori "baik" dan "buruk", melainkan lebih mengutamakan keseimbangan.
"Penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja. Itulah pelajaran paling berbobot nan saya dapatkan. Anda mungkin merasa tetap muda dan sehat, tetapi apa pun bisa terjadi. Kesehatan bukan hanya soal gimana penampilan Anda, melainkan gimana kondisi tubuh nan betul-betul Anda rasakan," tuturnya. (Abi Rama/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·