Waeng, seorang laki-laki berumur 45 tahun asal Kota Banjar, Jawa Barat, berambisi deretan bendera Merah Putih nan dia jajakan di Jalan Gejayan, Kabupaten Sleman, DIY, itu laku sebelum 17 Agustus.
"Kemarin tiga hari kosong, enggak ada nan beli sama sekali," kata Waeng kepada kumparan, Jumat (31/7).
Tiap tahun di akhir bulan Juli, Waeng meninggalkan kampung halamannya untuk pergi ke Yogyakarta. Di antara lampau lalang riuhnya kendaraan di Jalan Gejayan, dia bertaruh pada nasib. Berdoa segera laku dagangannya.
Harapan itu mulai datang hari ini. Beberapa orang mampir memandang dagangannya. Tiga orang memutuskan membeli. Waeng kembali optimis membawa untung ketika kembali ke Kota Banjar.
"Tadi baru tiga pembeli sama ibu tadi (yang terakhir)," kata Waeng.
Waeng mengatakan, dirinya berangkat dari Kota Banjar sekitar 24 Juli lalu. Selama di Yogyakarta dia menyewa indekos di Jalan Sudirman, Kota Yogyakarta. Lalu setiap harinya dia datang ke pinggiran Jalan Gejayan untuk berjualan.
"Sampai sekarang ini belum ada peningkatan. Sepi lah," katanya.
Kondisi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana setiap hari paling tidak ada orang nan membeli. Entah bendera maupun umbul-umbul. Bendera dijual Rp 20 ribuan. Sementara umbul-umbul Rp 50 ribu.
Waeng memprediksi, mulai 10 Agustus jumlah pembeli bakal meningkat. Jika tak ada tanda-tanda pembeli meningkat, dia bakal membawa dagangannya pulang ke Kota Banjar.
"Lihat minggu-minggu ini jika enggak laku ya paling pulang," katanya.
Pilihan itu mau tak mau kudu diambil. Menurut Waeng jika tak kunjung laku dirinya bakal makin merugi. Sementara biaya hidup seperti makan di Yogyakarta cukup besar.
"Membengkak biaya itu kan. Biaya hidup mahal," katanya.
Sisa dagangan bakal Waeng simpan. Tahun depan dia bakal bertaruh keberuntungan lagi, merantau ke Yogyakarta menjual Sang Saka Merah Putih.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·