Kisah Perajin Kudus Ubah Limbah Batok Kelapa Jadi Produk Bra yang Mendunia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Beragam produk kerajinan dari limbah batok kelapa buatan Tiar Bachroni diperlihatkan di rumahnya, Rabu (5/8/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Tiar Bachroni (31) menyulap limbah batok kelapa menjadi bra untuk kaum hawa. Menariknya, produk bra buatannya itu laku dibeli hingga ke Jamaika.

Oni, sapaan berkawan Tiar Bachroni, merupakan perajin batok kelapa. Ia biasa menggarap beragam kerajinan tangan di kediamannya nan berada di RT 2, RW 1, Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Istana Batok Kelapa nan telah dirintisnya sejak 2018 itu memanfaatkan limbah batok kelapa sebagai bahan dasar pembuatan bra. Batok kelapa, menurutnya, merupakan limbah nan tetap bisa dimanfaatkan.

"Kebanyakan orang menggunakan limbah batok kelapa untuk membikin arang. Ada juga nan menggunakannya untuk memasak. Saya mencoba mencari penemuan lain, ialah membikin kerajinan dari limbah batok kelapa," katanya, Rabu (5/8).

Tiar Bachroni menunjukkan produk kerajinan dari batok kelapa di rumahnya, Rabu (5/8/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Alasan lainnya memilih batok kelapa lantaran mau merawat bumi dengan memanfaatkan peralatan nan sudah tidak terpakai. Terkadang, dia sering memungut batok kelapa di pinggir jalan nan sudah tidak terpakai.

"Saya cuek sih mau dibilang mulung alias apa nan krusial tidak mencuri. Tetapi jika saat ini lebih sering beli limbah batok kelapa dari wilayah Purworejo lantaran pesanan sudah banyak," terangnya.

Kepiawaiannya menyulap limbah batok kelapa itu diperolehnya secara autodidak. Ia belajar dari Google dan YouTube untuk membikin kerajinan dari batok kelapa.

"Cibiran datang dari orang terdekat. Mereka bilang ke saya sarjana kok kerja kasar. Saya pilih cuek dan tetap menekuni upaya ini," ujarnya.

Membuat produk bra dari batok kelapa tak pernah ada dalam benaknya. Kala itu, dia mendapat pesanan dari Pekanbaru, Provinsi Riau, sebanyak 6 pcs pada 2018 silam.

Pesanan nan lebih besar datang pada tahun nan sama. Kali ini dari luar negeri, tepatnya Jamaika, dengan jumlah pesanan sebanyak 100 pcs.

Tiar Bachroni menunjukkan bra nan terbuat dari batok kelapa di kediamannya, Rabu (5/8/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Kendati terbuat dari batok kelapa, dia memastikan bra tersebut kondusif digunakan. Ukuran bra hanya tersedia dengan diameter 12 sentimeter dan 13 sentimeter.

"Orang luar negeri biasanya menggunakannya kala di pantai. Kalau orang Indonesia seringnya untuk asesoris ketika menari," ungkapnya.

Proses pembuatan bra dari batok kelapa menurutnya tak terlalu sulit. Batok kelapa dipotong kemudian diamplas agar halus. Setelah itu diberi lubang untuk mengikat tali kur filamen.

Selain bra batok kelapa nan dipesan hingga ke luar negeri, produk lainnya seperti mangkuk, gelas, dan piring mini pernah dipesan konsumen dari Prancis, Inggris, dan Filipina pada 2019 silam.

Tiar Bachroni mengamplas batok kelapa agar lebih lembut di tempat kerjanya pada Rabu (5/8/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Pesanan mangkuk datang dari Prancis, sedangkan konsumen dari Inggris memesan mangkuk dan gelas. Kemudian, pengguna dari Filipina memesan mangkuk dan piring kecil. Konsumen dari negara itu memesan seribuan pcs.

"Mereka pesan lewat DM instagram. Saya buatkan kemudian kirim menggunakan Pos Indonesia," kata Oni.

Kini pesanan lebih banyak datang dari dalam negeri. Oni tetap menjaga kualitas produknya agar konsumennya puas. Batok kelapa tua tetap menjadi pilihannya lantaran teksturnya nan kuat dan tebal.

Oni sering mencari limbah batok kelapa hingga ke Purworejo, Jawa Tengah. Tekstur batok kelapa di wilayah itu dirasa lebih bagus. Bahkan, potongan batoknya simetris sehingga memudahkan Oni membikin produk kerajinan.

"Untuk membikin mangkok dan gelas memerlukan batok kelapa nan bagus dan potongannya 60 persen ke atas. Kalau di wilayah Kudus mencari batok nan simetris sulit," ucapnya.

Tiar Bachroni menunjukkan produk kerajinan dari batok kelapa di rumahnya, Rabu (5/8/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Beragam produk dibuatnya, mulai dari mangkuk, gelas, centong, sendok, tas, celengan, relief, lukisan, dan lainnya. Harganya berkisar Rp 2 ribu hingga jutaan.

Terbaru, dia membikin produk permainan tradisional berjulukan egrang. Pesanan itu datang untuk memeriahkan perlombaan 17-an.

"Saya bakal terus berkarya dari limbah batok kelapa. Selain itu juga menjadi pemateri ke generasi muda agar mereka terus imajinatif dan mandiri," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan