Kisah Djoko Suyanto: Eject dari Pesawat Tempur hingga Jadi Panglima TNI

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

"The only way that you can keep leading is to keep growing. The day you stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it, always it."

Petuah dari Frank Outlaw itu bukan sekadar kalimat motivasi bagi Marsekal TNI Djoko Suyanto. Ia menjadikannya sebagai prinsip hidup-bahwa kepemimpinan hanya bisa dipertahankan melalui pertumbuhan nan terus-menerus.

Bagi Djoko, karakter manusia bukan sekadar anugerah, melainkan hasil dari proses panjang nan ditempa oleh pengalaman. Kesalahan, kegagalan, dan ujian bukan sesuatu nan kudu dihindari, tetapi justru kudu dirangkul sebagai bagian dari perjalanan. Ia pernah membayangkan kariernya sebagai penerbang tempur TNI AU hanya bakal berakhir di pangkat Letnan Satu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun perjalanan hidup berbicara lain. Ia justru mencapai puncak sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (2005-2006), menjadi perwira TNI AU pertama nan menjabat Panglima TNI (2006-2007), hingga dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (2009-2014).

Apa kuncinya? "Memperbaiki diri dari kesalahan, belajar dari pengalaman, dan mempunyai dorongan kuat untuk menjadi lebih baik," katanya dalam riwayat hidup Just Another Brick in the Wall Marsekal Djoko Suyanto.

Alkisah, ketika tetap berkedudukan Lettu pada 1979, dia terlambat bangun dan kandas menjemput para senior untuk latihan serangan fajar di Situbondo. Teguran keras dari para senior menghantam mentalnya. Namun nan paling membekas justru komentar singkat dari komandannya nan dikenal keras dan galak, Letkol FX Suyitno, justru hanya melontarkan teguran singkat: "Halaah Djok... Anda rupanya hanya segitu saja!"

Kalimat itu menghancurkan rasa percaya dirinya sebagai lulusan terbaik Sekbang Angkatan 20. Ia sempat mengira kariernya selesai. Namun dari situlah dia belajar: reputasi tidak menjamin apa pun jika tidak diikuti konsistensi. Ia memilih berintrospeksi dan memperbaiki diri.

Ujian berikutnya datang lebih berat. Pada 23 September 1981, saat menerbangkan F-5 Tiger di atas Lanud Iswahjudi, Madiun, kedua mesin pesawatnya tiba-tiba mati. Dalam hitungan detik, dia kudu mengambil keputusan antara hidup dan mati. Upaya quick restart gagal, ketinggian terus menurun, dan akhirnya dia memutuskan melakukan eject sesuai prosedur.

"Parasut saya mendarat di kebun jagung sekitar empat kilometer ke arah Selatan dari landasan," katanya.

Peristiwa itu bisa saja mengakhiri kariernya sebagai penerbang tempur. Namun justru sebaliknya, satu dasawarsa kemudian, Djoko Suyanto mencatat sejarah sebagai penerbang tempur pertama dengan 2.000 jam terbang F-5 Tiger-sebuah capaian nan diabadikan harian Kompas pada 27 Maret 1991.

Salah satu bagian menarik dari riwayat hidup ini adalah relasinya dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai Presiden, SBY menunjuk Djoko nan baru menyandang Bintang Dua untuk menjadi KSAU menggantikan Marsekal Chappy Hakim. Bintangnya bertambah menjadi tiga sehari menjelang dilantik menjadi KSAU, dan bertambah lagi menjadi Bintang Empat 2,5 bulan kemudian.

Tentang kebijakan tersebut, SBY menjelaskannya dalam empat laman sambutan di riwayat hidup ini.

Fenomena kenaikan pangkat sigap ini berulang di periode kedua pemerintahan SBY. Ia melakukan perihal serupa kepada Timur Pradopo, nan dalam waktu kurang dari tiga pekan dua kali naik pangkat. Bintang di pundak Timur bertambah menjadi tiga (Komjen) saat dipromosi dari Kapolda Metro Jaya menjadi Kabarharkam pada 4 Oktober 2010. Lalu menjadi Jenderal Bintang Empat saat diangkat sebagai Kapolri pada 20 Oktober 2010.

Namun di kembali capaian dan kehormatan itu, kehidupan pribadi Djoko Suyanto diwarnai ujian nan jauh lebih berat. Istrinya, Ratna Sinar Sari, kudu menjalani serangkaian operasi besar. Setahun setelah sang ayah nan menjadi idolanya berpulang, putra sulungnya, Yona Didya Febrian nan didiagnosis tumor otak menyusul kemudian pada Hari Idul Adha, 5 April 2000.

Dalam duka nan mendalam, Djoko memaknainya dengan ketegaran: sebuah pengorbanan di hari nan mulia. "Dia telah berkorban di hari Idul Qurban, hari nan sangat mulia untuk kedua orang tua dan adiknya," kata Djoko.

Draf riwayat hidup ini telah disiapkan sejak 2005. Sayang tetap ditemukan beberapa typo. Juga ada ketidakakuratan dalam penulisan keterangan waktu mengenai berpulangnya putra sulung Djoko Suyanto. Semula ditulis meninggal pada 5 April 2000, tapi di Alinea berikutnya disebutkan dimakamkan keesokan harinya di Madiun, 6 Maret 2001.

Menyimak riwayat hidup ini, ada satu benang merah terbaca bahwa kepemimpinan bukanlah soal jabatan, melainkan ketahanan untuk terus bertumbuh. Kesalahan tidak menghentikan langkah, kegagalan tidak mengakhiri perjalanan, dan ujian tidak mematahkan arah. Justru dari situlah seorang pemimpin ditempa-bukan hanya untuk memimpin orang lain, tetapi juga untuk menaklukkan dirinya sendiri.

(jat/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News