Disabilitas asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Achmad Nur Zani mempunyai keahlian modifikasi sepeda motor roda dua menjadi roda tiga. Keahlian itu muncul usai dirinya mengalami amputasi kaki kiri.
Zani adalah penduduk Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia terlahir normal dengan kedua tangan dan kaki. Namun, musibah kecelakaan pada 2015 memaksanya kehilangan kaki kirinya.
Di tahun itu Zani bekerja sebagai pengemudi bus. Ia mengalami kecelakaan di Tol Cipali. Bus nan dikendarai olehnya menabrak truk kontainer. Kaki kirinnya terjepit di dashboard bus hingga kudu diamputasi.
"Selama dua tahun saya bed rest. Aktivitas hanya sebatas mengantarkan anak berangkat sekolah," katanya kepada kumparan, Jumat (10/4).
Ia merasa syok selama dua tahun itu. Pikirannya penuh dengan rasa cemas apakah bisa bekerja lagi alias tidak. Perlahan, support datang dari rekan-rekan disabilitas dan family hingga membuatnya bangkit.
"Pada tahun 2019 saya modif sepeda motor saya menjadi roda tiga untuk aktivitas ke luar rumah. Saya belajar otodidak untuk modif motor roda tiga," terangnya.
Sebenarnya laki-laki 47 tahun itu tetap bisa mengendarai sepeda motor roda dua. Hanya, istrinya selalu was-was ketika suaminya berpergian ke luar rumah. Sehingga, munculah buahpikiran modif sepeda motor menjadi roda tiga.
"Awalnya modif sepeda motor roda tiga untuk saya sendiri. Tetapi banyak orderan dari teman-teman disabilitas nan minta dibuatkan," ujarnya.
Ia mengaku tak ada background sebagai tukang bengkel. Semua dilakoninya otodidak. Selain itu niatnya hanya membantu rekan sesama disabilitas. Ia tak mematok nilai modif sepeda motor roda tiga, hanya selama ini biaya modif per satu motor berkisar Rp 5,5 juta.
Beragam tahapan modifikasi diakuinya lumayan panjang. Tiap-tiap sepeda motor memerlukan waktu sampai tiga pekan. Dimulai dari pembelian perlengkapan modifikasi seperti roda, besi rangka, baut, pemasangan roda, hingga finishing. Ia juga melayani pemasangan sespan (sidecar) di samping motor.
Satu sepeda motor roda tiga dapat dinaiki dua orang. Apabila ditambah dengan sespan bisa dinaiki tiga orang. Ia memastikan keamanan sepeda motor modifikasi roda tiga buatannya.
Sepeda motor roda tiga itu dipastikan muat untuk memasuki gang perkampungan rumah. Jarak roda belakang sebelah kiri dan kanan mencapai 80 sentimeter agar tidak miring ketika berbelok.
Secara unik dia tak membuka bengkel di rumahnya. Pekerjaan servis maupun modifikasi dilakukan berasas orderan.
Dalam setahun dia bisa mendapatkan orderan modif sebanyak enam unit motor. Pelanggannya berasal dari Kudus, Demak, Pati, Grobogan dan wilayah sekitarnya.
Jika tidak ada orderan untuk modifikasi alias servis, Zani bekerja melipat paperbag dari industri rumahan di Kabupaten Kudus. Ia memastikan pekerjaannya untuk memodifikasi sepeda motor roda tiga tidak bakal berhenti. Sebab tujuannya untuk membantu para disabilitas.
"Selama tetap ada orderan ya saya jalani saja modifikasi sepeda motor roda tiga ini," imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang pengguna asal Kabupaten Kudus, Khalimi mengaku sering servis di tempat Achmad Nur Zani. Setiap ada keluhan nan dialami motor roda tiganya langsung dibawanya ke tempat Zani.
Khalimi menggunakan sepeda motor roda tiga lantaran kedua kakinya tidak begitu kuat untuk digunakan sebagai tumpuan akibat polio. Ia lebih mudah mengoperasikan sepeda motor roda tiga.
"Kalau ada keluhan kurang lezat ya saya bawa ke sini. Kalau di bengkel lainnya sering ditolak lantaran sepeda motor roda tiga jika diservis terlalu lama setara tiga unit motor roda dua," ucapnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·