Kibaran Bendera Merah Putih Marketplace dan Kesepian Pedagang Jalanan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Suasana pedagang bendera dan pernak-pernik jelang HUT RI di Kramat Sentiong, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (2/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, bendera Merah Putih jadi salah satu item nan paling diburu. Barang ini mudah ditemukan di beragam tempat: dari pinggir jalan, sampai penjualan online.

Namun, dengan 17 Agustus nan tinggal menghitung hari, nasib pedagang jalanan justru kian anyep.

Dina (48), salah satunya, pedagang bendera asal Cirebon, tetap mengandalkan langkah kaki untuk menawarkan dagangannya. Sejak Rabu, 29 Juli 2026, dia berkeliling dari Bekasi hingga Jakarta Timur membawa banyak bendera dan tiang dengan gerobak kecilnya untuk mencari pembeli.

Sudah sekitar lima tahun Dina menjalani pekerjaan musiman itu. Namun, tahun ini dia merasakan perubahan nan cukup tajam.

"Beda sekarang sih banyak online, jadi kurang laku lah. Kurang laku, banyakan orang beli online semua. Jadi capeknya doang. Keliling tuh," kata Dina saat ditemui di sekitar Jalan Kalibaru, Bekasi, Sabtu (8/8) sore.

Dina mengatakan, penjualan bendera tahun ini turun sekitar separuh dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya dia bisa menjual sekitar 20 hingga 30 bendera alias tiang dalam sehari, sekarang jumlahnya hanya berkisar 10 hingga 15, paling banyak 20.

“Kalau sekarang paling 10, 20, 15,” katanya sembari tersenyum kecil.

Bagi Dina, perbedaan itu terasa langsung pada penghasilan sehari-hari. Tahun-tahun sebelumnya, berdagang bendera tetap cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan makan. Tahun ini, penghasilan dari berdagang bendera terasa lebih susah diandalkan.

Dina (48), penjual bendera di area Bekasi-Jakarta Timur, Sabtu (8/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

"Kalau tahun-tahun kemarin kan lumayan, buat makan-makan ya mudah lah, jika sekarang susah. Capeknya doang," keluhnya.

Dina tidak membeli sendiri seluruh dagangannya. Ia bekerja dengan seorang bos nan menyediakan bendera dan perlengkapan untuk dijual. Dina kemudian tinggal membawa dagangan tersebut dan berkeliling mencari pembeli.

Rutenya tidak menetap. Ia menyusuri sejumlah wilayah di Bekasi dan Jakarta Timur, mulai dari Bulak Kapal hingga Klender.

"Tinggal jalan aja, dagang, nan krusial kenceng jalannya, muter-muter terus," ucapnya.

Namun, langkah kaki nan terus bergerak tidak selalu berujung pada transaksi. Dina memandang kebiasaan masyarakat berbelanja telah berubah. Bendera nan dulu dicari langsung kepada pedagang jalanan sekarang bisa dibeli melalui marketplace.

Menurut pengamatannya, sekitar separuh pembeli sekarang memilih berbelanja secara online.

“Sekitar 50 persen lah beli online semua,” ujarnya.

Perubahan itu membikin pedagang jalanan kudu bersaing dengan nilai dan kemudahan nan ditawarkan penjualan daring. Dina mengaku kerap menghadapi pembeli nan menawar nilai tiang bendera sangat rendah.

“Bapak-bapak nawarnya sepuluh ribu. Tiang bendera tuh,” katanya.

Bukan hanya Dina nan merasakan sepinya pembeli. Ia mengatakan kondisi serupa dialami pedagang bendera lain nan ditemuinya.

“Sama begitu juga, semua sunyi semua,” ujarnya.

Jenis peralatan nan dijual Dina sebenarnya beragam. Ada pembeli nan mencari bendera saja, ada pula nan memerlukan tiangnya. Namun, menurut dia, bendera sekarang lebih banyak dibeli secara online sehingga peralatan nan tetap cukup sering dicari secara langsung adalah tiang.

Di luar profesinya sebagai pedagang bendera, Dina juga kerap berdagang ikan hias keliling. Lalu, ketika berada di kampung, dia sesekali bekerja sebagai pekerja tani. Selebihnya, dia mengandalkan pekerjaan nan datang.

Karena itu, musim menjelang 17 Agustus menjadi salah satu kesempatan bagi Dina untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Tetapi tahun ini, kesempatan tersebut terasa semakin sempit.

“Susah sekarang nyari duit,” kata Dina.

Di tengah perubahan langkah masyarakat berbelanja, Dina tetap melangkah dari satu tempat ke tempat lain. Bendera-bendera nan dibawanya tetap menawarkan simbol nan sama, Merah Putih nan setiap Agustus menghiasi jalan, rumah, dan lingkungan warga.

Dina (48), penjual bendera di area Bekasi-Jakarta Timur, Sabtu (8/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Yang berubah adalah langkah orang mendapatkannya.

Bagi pembeli, satu sentuhan di layar ponsel dapat mengantarkan bendera ke depan pintu rumah. Bagi Dina, mendapatkan satu transaksi berfaedah terus berjalan, menawarkan dagangan, dan berambisi ada orang nan berhenti.

Ia tetap berkeliling.

Sebab bagi Dina, ketika penjualan sunyi sekalipun, pilihan untuk berakhir bekerja tidak banyak.

"Jual bendera juga susah. Banyakan online sih. Online semua. Online semua sekarang," katanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan