Kiat Tanggulangi ISPA dan Dampak Cuaca Ekstrem Musim Kemarau dari Kemenkes

Sedang Trending 20 menit yang lalu
Kiat Tanggulangi ISPA dan Dampak Cuaca Ekstrem Musim Kemarau dari Kemenkes Ilustrasi penggunaan masker untuk mencegah ISPA.(Dok. Antara)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menyoroti kaitan erat antara tren kasus jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA) dengan aspek iklim, khususnya kondisi kekeringan di musim kemarau. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa perubahan lingkungan nan ekstrem membikin masyarakat lebih rentan terhadap penyakit.

Menurut Aji, penurunan kualitas udara selama musim tandus menjadi pemicu utama meningkatnya kasus ISPA. Hal ini sering kali diperburuk oleh kejadian kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan menghasilkan polutan berbahaya.

“Salah satu polutan nan menjadi parameter kualitas udara adalah PM 2,5. Apabila kualitas udara menurun maka nomor kejadian ISPA meningkat,” ujar Aji dalam keterangan tertulisnya.

Kiat Pencegahan ISPA

Untuk meminimalisasi akibat penularan dan gangguan pernapasan selama musim kemarau, Kemenkes membagikan sejumlah langkah preventif bagi masyarakat:

  • Gunakan Masker: Terutama saat beraktivitas di luar ruangan ketika tingkat polusi udara sedang tinggi.
  • Terapkan PHBS: Melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat secara konsisten.
  • Hindari Polutan: Menjauhi sumber polusi udara dan asap rokok.
  • Batasi Aktivitas Luar Ruangan: Mengurangi aktivitas di luar dan menutup ventilasi rumah, kantor, alias sekolah saat kualitas udara memburuk.
  • Gunakan Penjernih Udara: Memanfaatkan air purifier di dalam ruangan untuk menjaga kebersihan udara.

Selain ISPA, Aji mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap akibat dehidrasi dan heat stroke akibat cuaca panas nan ekstrem. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan perseorangan dengan penyakit penyerta (komorbid) diminta untuk lebih berhati-hati.

Data Kasus dan Kesiapan Fasilitas Kesehatan

Berdasarkan info Kemenkes, tercatat sebanyak 15,6 juta kasus ISPA hingga Agustus 2026, sedikit meningkat dibandingkan periode nan sama pada 2025 nan mencapai 15,4 juta kasus. Menariknya, laporan kasus terbanyak justru berasal dari provinsi di Pulau Jawa nan padat penduduk, melampaui wilayah terdampak karhutla.

Menanggapi situasi ini, Kemenkes telah menyiagakan rumah sakit, termasuk rumah sakit vertikal, untuk menangani kasus kegawatdaruratan seperti gangguan pernapasan akut maupun perburukan penyakit kronis akibat cuaca panas. Tenaga kesehatan dan akomodasi pendukung dipastikan siap memberikan pelayanan jika terjadi lonjakan kebutuhan medis di masyarakat. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia