“Sudah besar kau sekarang. Semoga sehat selalu, panjang umur, dan sukses dalam hidup.”
Kalimat seperti itu tetap sering terdengar dalam prosesi mangupa-upa. Kalimat sederhana, tetapi selalu datang dalam momen-momen krusial kehidupan seseorang dalam masyarakat Batak. Dari situ muncul pertanyaan, kenapa tradisi ini tetap tetap dipertahankan di tengah kehidupan nan semakin modern dan serba cepat.
Mangupa-upa bukan sekadar aktivitas budaya nan dilakukan secara turun-temurun. Tradisi ini menjadi ruang untuk menyampaikan doa, nasihat, dan angan secara langsung kepada seseorang. Di dalamnya terdapat kepercayaan bahwa manusia tidak hanya memerlukan ucapan, tetapi juga penguatan secara emosional dan spiritual dari family serta kerabat terdekat.
Pelaksanaan mangupa-upa dilakukan dalam beragam peristiwa kehidupan. Dalam pernikahan, tradisi ini menjadi corak angan restu agar rumah tangga pengantin diberkahi keharmonisan, keturunan, dan rezeki nan baik. Pada momen kelahiran, mangupa-upa menjadi ungkapan syukur sekaligus angan agar anak tumbuh sehat, mempunyai umur panjang, dan membawa kebaikan bagi keluarga.
Tradisi ini juga dilakukan ketika seseorang sembuh dari sakit, kembali dari perantauan, alias mengalami peristiwa besar dalam hidup. Dalam konteks tersebut, mangupa-upa dimaknai sebagai upaya menguatkan kembali semangat hidup alias tondi, agar seseorang dapat kembali menjalani kehidupannya dengan lebih baik.
Selain itu, mangupa-upa juga datang dalam momen keberhasilan seperti kelulusan, mendapatkan pekerjaan, alias keberangkatan merantau. Dalam situasi tersebut, tradisi ini menjadi corak support moral dan spiritual dari family besar.
Hal nan tidak dapat dipisahkan dari mangupa-upa adalah hidangan nan disebut pangupa. Hidangan ini tidak hanya berfaedah sebagai makanan, tetapi mempunyai makna simbolis. Ikan mas arsik, ayam, telur, nasi, dan beragam hidangan lainnya melambangkan angan bakal kesehatan, kekuatan, keselamatan, dan kesejahteraan hidup.
Dalam beberapa pelaksanaan, makanan tersebut diberikan langsung dan disuapkan kepada orang nan diupa-upa sebagai simbol bahwa angan dan kasih sayang family betul-betul disampaikan secara nyata. Tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nan dapat dirasakan secara langsung.
Selain hidangan, terdapat pula nasihat nan disampaikan oleh orang tua, family dan kerabat. Nasihat tersebut tidak hanya berangkaian dengan budaya istiadat, tetapi juga mencakup kehidupan sehari-hari, seperti langkah bersikap, menjaga hubungan keluarga, dan menjalani peran di tengah masyarakat.
Di tengah perkembangan era nan semakin modern, banyak corak komunikasi nan tidak lagi memerlukan pertemuan langsung. Ucapan dan angan dapat disampaikan melalui pesan singkat alias media digital. Namun mangupa-upa tetap dipertahankan dalam beragam kesempatan penting.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat nilai nan tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi, ialah kehadiran secara langsung dalam kebersamaan keluarga.
Mangupa-upa tidak hanya berfaedah sebagai tradisi, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkuat hubungan sosial dan emosional dalam keluarga. Di dalamnya terdapat doa, perhatian, dan support nan disampaikan secara langsung kepada seseorang.
Selama nilai tersebut tetap dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat, mangupa-upa bakal tetap mempunyai tempat dan terus dijalankan hingga saat ini.
6 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·