Ketika Sopan Santun Mulai Terasa Asing di Ruang Publik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi sopan santun. (Sumber: shutterstock.com).

Pernahkah Anda merasa tidak nyaman ketika orang di sekitarmu bertindak seolah keberadaanmu tidak penting? Banyak orang terbiasa bersikap baik kepada family dan teman, tetapi lupa menunjukkan perihal nan sama kepada orang lain di sekitar mereka. Padahal, sopan santun bukan hanya milik hubungan pribadi dia adalah bagian dari langkah kita hidup berbareng sebagai masyarakat.

Ketika "Permisi" Menjadi Kata nan Langka

Di beragam situasi sehari-hari, sikap saling mengabaikan sudah terasa biasa. Orang melangkah tanpa mengucapkan "permisi", tidak memperhatikan orang lain nan memerlukan bantuan, dan berbincang keras tanpa mempedulikan kenyamanan sekitar. Kata-kata sederhana seperti "tolong" dan "terima kasih" pun semakin jarang terdengar.

Yang lebih memprihatinkan, perilaku ini tidak hanya terjadi pada satu golongan alias generasi tertentu. Ia terjadi di mana-mana dan pada siapa saja, seolah sudah menjadi kebiasaan nan diterima begitu saja. Tidak ada nan merasa perlu mengubahnya lantaran semua orang sudah terbiasa bersikap demikian.

Ketergantungan pada ponsel turut memperparah keadaan ini. Ketika seseorang terus menatap layar, perhatiannya terputus dari lingkungan sekitar. Ia bisa berada di tengah keramaian, tetapi pikirannya sepenuhnya berada di tempat lain. Ini bukan soal salah alias benarnya teknologi, tetapi soal gimana kita memilih menggunakannya di tengah orang lain.

Ruang Publik Adalah Ujian Peradaban

Menurut saya, langkah sebuah masyarakat memperlakukan orang nan tidak mereka kenal adalah ukuran paling jujur dari peradabannya. Di lingkungan family dan sahabat, nyaris semua orang bisa bersikap ramah dan penuh perhatian. Tetapi ketika berhadapan dengan orang asing, di mana tidak ada ikatan emosional dan tidak ada untung nan bisa didapat dari sebuah senyuman di situlah karakter seseorang dan sebuah bangsa betul-betul diuji.

Ketika sopan santun mulai terasa asing, nan rusak bukan hanya suasana. nan rusak adalah rasa saling percaya bahwa kita tetap bisa hidup berdampingan dengan baik. Kepercayaan sosial itu tidak tumbuh dari hal-hal besar, melainkan dari kebiasaan mini nan kita lakukan setiap hari terhadap orang-orang di sekitar kita.

Bukan Nostalgia, Melainkan Pilihan

Memulihkan sopan santun bukan berfaedah merindukan masa lampau nan mungkin tidak pernah sesempurna nan kita bayangkan. Ini soal pilihan nan kita buat setiap hari mengucapkan "permisi" saat melewati orang lain, memberikan tempat duduk kepada nan lebih membutuhkan, alias sekadar tidak mengabaikan orang nan memerlukan bantuan.

Hal-hal mini itu tidak memerlukan upaya nan besar. Tetapi jika dilakukan secara konsisten, dampaknya nyata. Satu sikap sopan dapat mengubah suasana, dan suasana nan berubah dapat mengubah kebiasaan banyak orang. Selama kita tetap mau memilih untuk peduli, perubahan itu selalu mungkin terjadi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan